Policewatch-Lombok Utara
19 /02/2026 – Ketua Bhayangkari Cabang Lombok Utara, Ny. Heny Agus Purwanta, menegaskan bahwa diplomasi akademik Indonesia di kawasan ASEAN tidak boleh berhenti pada seremoni dan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) semata. Menurutnya, kerja sama lintas negara harus berujung pada implementasi konkret yang terukur dan memberikan dampak langsung bagi perguruan tinggi serta mahasiswa kedua negara.
Penegasan itu disampaikan Heny usai menghadiri kegiatan International Community Service atau Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang digelar Ikatan Dosen Republik Indonesia (IDRI) Banten. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan kerja sama strategis ke Malaysia dan Singapura yang berlangsung pada 9–12 Februari 2026.
“Dengan kunjungan ini, saya berharap kolaborasi benar-benar direalisasikan melalui karya nyata. Mulai dari penelitian bersama di Indonesia maupun Malaysia, kerja sama pemasaran produk, perluasan pasar bagi mahasiswa yang menempuh studi bisnis, hingga program joint study bagi mahasiswa kedua negara,” ujar Heny, istri Kapolres Lombok Utara AKBP Agus Purwanta, S.I.K., dalam keterangannya pada Kamis (19/2).
Heny menambahkan, internasionalisasi tridarma perguruan tinggi harus menyentuh tiga aspek strategis secara bersamaan: penguatan riset, pengembangan kewirausahaan mahasiswa, dan akses pasar regional. Hal ini sejalan dengan upaya meningkatkan daya saing akademik dan relevansi pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri.
Dalam agenda utama di Malaysia, rombongan IDRI Banten menandatangani MoU dengan Management & Science University (MSU). Kerja sama tersebut mencakup penyelenggaraan program double degree, pertukaran dosen dan mahasiswa, serta penguatan mobilitas akademik lintas negara sebagai bagian dari internasionalisasi tridarma perguruan tinggi.
Selain penandatanganan MoU, konferensi internasional juga digelar di SEGi University dengan menghadirkan akademisi dari Malaysia, Indonesia, dan Nigeria. Dalam forum tersebut, Associate Professor Dr. Irene Tan menyatakan kesiapan pihaknya untuk memperluas kolaborasi riset dan publikasi internasional bersama perguruan tinggi Indonesia.
Heny menilai, kerja sama yang terbangun harus diarahkan pada penguatan daya saing riil perguruan tinggi nasional, bukan sekadar memperluas jaringan administratif. Menurutnya, mahasiswa Indonesia harus diposisikan sebagai pelaku utama dalam arus globalisasi pendidikan dan industri, bukan sekadar menjadi konsumen.
“Kita harus mendorong kampus agar mampu melahirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan industri dan pasar ASEAN,” katanya.
Langkah ini dinilai sejalan dengan kebutuhan peningkatan kualitas publikasi ilmiah dan reputasi akademik Indonesia di tingkat internasional, yang selama ini masih menjadi tantangan dalam berbagai indikator pemeringkatan global.
Rangkaian kegiatan juga diisi dengan kunjungan industri ke Karangkraf di Malaysia. Kunjungan ini bertujuan memperdalam pemahaman tentang manajemen publikasi, ekosistem media, serta strategi diseminasi hasil riset secara regional.
Kegiatan PKM Internasional tersebut diikuti oleh 14 perguruan tinggi dari berbagai daerah di Indonesia sebagai bagian dari upaya memperkuat diplomasi akademik dan memperluas jejaring kolaborasi ASEAN.
Melalui kerja sama lintas negara ini, Heny berharap perguruan tinggi Indonesia mampu mempercepat transformasi menuju kampus berdaya saing global, adaptif terhadap perkembangan industri, serta berkontribusi nyata dalam pembangunan berbasis ilmu pengetahuan dan inovasi.
Jurnalis
Mamen
