POLICEWATCH-LAMPUNG BARAT.
Proyek revitalisasi di SD Negeri Beringin Jaya, Kecamatan Bandar Negri Suoh, Kabupaten Lampung Barat, menjadi sorotan tajam warga. Alih-alih memperbaiki fasilitas pendidikan anak-anak, pelaksanaan pekerjaan justru diduga dikerjakan asal-asalan, menggunakan material tidak standar, serta mengabaikan keselamatan kerja.
Berdasarkan pemantauan awak media di lokasi, sejumlah temuan mencurigakan terlihat jelas. Kualitas adukan semen terlihat tidak kuat, besi penyangga rapuh, dan bahan yang digunakan diduga tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI). Warga melaporkan, kusen dan daun jendela justru masih menggunakan yang lama, hanya diganti daun pintu saja, sementara material lainnya tidak sesuai spesifikasi teknis.
Lebih mencurigakan, dokumen Persyaratan Penyelenggaraan Pembangunan Sarana dan Prasarana (P2SP) untuk seluruh proyek revitalisasi di Kecamatan Bandar Negri Suoh dinilai warga sekadar formalitas belaka, tidak tercermin dalam kualitas pekerjaan di lapangan.
Selain masalah kualitas bangunan, aturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga diduga diabaikan. Para pekerja di lokasi terlihat tidak mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) standar — tidak ada helm keselamatan, rompi proyek, maupun sepatu keselamatan. Kondisi ini jelas melanggar aturan ketenagakerjaan yang berlaku.
Warga sekitar yang enggan disebutkan namanya menyampaikan kekecewaannya:
"Pengerjaannya terkesan asal jadi. Kusen dan jendela pakai yang lama, cuma daun pintu diganti. Material tidak sesuai spesifikasi. Pekerjanya pun tidak pakai APD sama sekali. Padahal ini tempat anak-anak belajar. Harusnya kualitas dan keamanan diutamakan, bukan asal selesai," ujarnya.
Saat dimintai keterangan resmi, Kepala Sekolah SD Beringin Jaya, Jamilah, justru menolak memberikan penjelasan dan mengarahkan awak media kepada pelaksana proyek yang berinisial Aan. Hal ini memicu pertanyaan: di mana fungsi pengawasan pihak sekolah dan dinas terkait selama pekerjaan berlangsung?
Warga dan wali murid berharap Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Barat beserta instansi pengawas terkait segera turun ke lapangan. Diperlukan audit menyeluruh untuk memastikan proyek ini benar-benar bermanfaat dan aman bagi siswa, bukan sekadar menghabiskan anggaran tanpa hasil yang layak.
"Jangan sampai fasilitas pendidikan anak-anak dibangun dengan standar yang di bawah layak. Periksa materialnya, periksa prosesnya, dan pastikan anggaran negara digunakan dengan benar," tegas perwakilan warga.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pelaksana proyek maupun Dinas Pendidikan Kabupaten Lampung Barat. Awak media akan terus mengawal perkembangan kasus ini.
Anhar
