Tanpa Modal, Hanya Niat Ikhlas & Kerja Sama: H. Serimin, S.Pd. Tegaskan Korupsi Bermula dari Tingkat Bawah — Rekam Jejak Pengabdian Dipuji Tokoh Masyarakat

 



Policewatch-Barabali

Suasana penuh harapan dan kebersamaan menyelimuti pertemuan warga Desa Barabali, Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, Minggu (30/8/2026). Bakal calon Kepala Desa Barabali, H. Serimin, S.Pd., berdiri di hadapan seluruh tokoh masyarakat, tokoh agama, para sesepuh, pemuda, ibu-ibu, dan warga Desa Barabali untuk memaparkan visi dan misinya — bukan dengan janji kemewahan atau uang, melainkan dengan niat tulus, kejujuran, dan ajakan untuk bekerja sama.

 

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Hari ini saya berdiri di hadapan Bapak, Ibu, Saudara-saudara sekalian bukan untuk menjanjikan kemewahan, bukan untuk menjanjikan uang, dan bukan untuk menjanjikan hal-hal yang mustahil. Saya berdiri di sini hanya membawa satu hal: niat tulus untuk mengabdi, dan ajakan untuk bekerja sama,” ujar H. Serimin membuka penyampaiannya.

 

Beliau mengajak putra-putri Desa Barabali yang mahir di bidang IT dan komputer untuk bersama-sama berinovasi memajukan desa melalui jalur digital — cukup dari gawai di tangan, tanpa biaya besar.

 

“Lihatlah putra-putri kita di Desa Barabali — ada di antara kita yang mahir di bidang IT, mahir mengoperasikan komputer dan gawai. Insya Allah, besok saya akan ajak mereka untuk berinovasi bersama. Kita bisa bangun desa ini kemajuannya cukup dari gawai di tangan kita. Tak butuh biaya ratusan juta. Cukup dengan puluhan ribu, cukup dengan semangat, kita bisa buatkan akun resmi desa, lakukan sosialisasi secara luas, biar informasi sampai ke setiap sudut dusun — tanpa biaya mahal, cukup jari yang mau bekerja dan hati yang mau berubah.”

 

H. Serimin menegaskan dengan tulus dan jujur: niat saya ikhlas, dan saya tidak punya uang. Yang diminta hanya kesamaan niat untuk merubah desa.

 

“Saya tegaskan di sini, di hadapan Bapak Ibu semua: Saya berniat ikhlas, dan saya tidak punya uang. Cukup tangan bersatu, cukup jari saling menunjuk arah yang sama, cukup hati yang sama-sama ingin merubah. Itu saja yang saya minta.”

 

Beliau juga memperingatkan agar masyarakat tidak tergiur janji manis yang menjanjikan hasil instan, sekaligus menegaskan akar dari segala keburukan tata kelola — korupsi bermula dari hal-hal kecil:

 


“Kita semua sama-sama ingin merubah, sama-sama ingin maju. Tapi ingat, orientasi kita harus benar. Jangan sampai kita tergiur janji-janji yang manis tapi tak nyata. Jangan percaya janji ‘balik modal dalam waktu singkat’. Pembangunan desa itu bukan bisnis. Pembangunan itu butuh waktu, butuh kesabaran, butuh kerja keras. Dulu orang bilang butuh dua tahun untuk melihat hasil yang nyata. Kalau tujuannya uang, cepat atau lambat akan mengecewakan. Tapi kalau tujuannya rakyat — Insya Allah, Allah yang akan mencukupkan. Ingatlah: korupsi ini bermula dari tingkat bawah. Kalau makin mampu kita, makin harus jujur, bukan makin mengambil. Kejujuran dimulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil, baru sampai ke yang besar.”

 

H. Serimin pun memohon kepada seluruh warga, terutama keluarga dan kerabat, untuk tidak dikorbankan demi jabatan dan kebijakan.

 

“Saya mohon dengan hormat kepada seluruh warga, terutama kepada keluarga dan kerabat saya: Jangan korbankan kami dengan jabatan dan kebijakan. Setiap orang yang jujur, yang polos, selalu melihat keluarga dan rakyatnya terlebih dahulu sebelum melihat keuntungan diri sendiri. Kasihanilah kami, jangan dikorbankan demi kepentingan yang tak jelas.”

 

Beliau menekankan satu prinsip mendasar: tidak ada pemimpin hebat tanpa kerja sama seluruh masyarakat.

 

“Satu hal yang ingin saya tanamkan hari ini: Sebesar apa pun hebatnya seorang pemimpin, tanpa kerja sama seluruh masyarakat, jangan mimpi — Barabali tak akan maju. Pemimpin itu hanya satu orang, tapi yang membangun desa itu ratusan, ribuan tangan kita semua. Mari kita bangun bersama, dari hati yang sama, untuk desa yang sama.”

 

 

Untuk menjamin transparansi dan mencegah penyalahgunaan dana, H. Serimin memaparkan rencana pembentukan struktur organisasi yang jelas dan terbuka:

 

“Nanti, kalau dipercaya memimpin, kita akan bentuk tim kerja yang lengkap — ada Ketua, Wakil Ketua, Sekretaris, dan Anggota. Semua terbuka, semua diketahui masyarakat. Jangan sampai satu orang memegang uang sendirian, karena itu berbahaya. Dana desa harus dikelola bersama, transparan, setiap warga berhak tahu ke mana setiap rupiah pergi.”

 

“Kontribusi warga tak harus berupa uang. Tenaga, pikiran, dan semangat gotong royong itu jauh lebih berharga. Mari kita kurangi biaya yang tak perlu, perbanyak kerja nyata bersama.”

 

Selain itu, akan dibentuk Tim Pemecah Masalah yang terdiri dari warga yang paham hukum pemerintahan, hukum adat, hukum agama, dan hukum waris — agar setiap perselisihan dapat diselesaikan dengan benar dan adil.

 

“Kita juga akan bentuk Tim Pemecah Masalah — orang-orang yang paham hukum pemerintahan, paham hukum adat, paham hukum agama, dan paham hukum waris. Ketika ada perselisihan di masyarakat, tak perlu berlarut-larut. Tim ini yang akan membantu mencari jalan keluar yang benar dan adil, sehingga kepala desa bisa memutuskan dengan benar, bukan dengan semena-mena.”

 

Di akhir penyampaiannya, H. Serimin menegaskan kesiapannya untuk menjadi milik seluruh masyarakat.

 

“Saya sadari, dengan berdiri di sini, saya sudah menjadi milik orang banyak. Harap kita semua menjaga kebersamaan, jangan timbul buruk sangka, jangan ada perpecahan. Mari kita saling menghormati, saling mendukung demi kemajuan desa kita tercinta. Semoga Allah SWT selalu meridhoi langkah kita, dan semoga Barabali menjadi desa yang Aman, Sejahtera, Religius, dan Indah — bersama-sama. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

 

Setelah penyampaian H. Serimin, tokoh masyarakat sekaligus sesepuh Desa Barabali, Pak Sulaiman, turut memberikan tanggapan dan menyampaikan apresiasi mendalam atas rekam jejak pengabdian beliau yang dinilai telah sepenuhnya mengundurkan diri dari berbagai kesibukan demi melayani masyarakat.

 

“Terbukti dan betul-betul beliau telah mengundurkan diri sepenuhnya untuk mengabdi kepada masyarakat, khususnya di Desa Barabali dan juga kita semua. Sudah berapa kali musabaqah yang diikuti — Barabali, Bengkisk, dan Barabali lagi — beliau ambil lagi di posisi kedua. Hari itu beliau ikut, tidak sekadar ikut seleksi, tapi benar-benar menyumbangkan kemampuannya. Musabaqah tingkat desa Barabali ini tidak pernah dihina atau diremehkan, baik di bidang sosial maupun lainnya,” tegas Pak Sulaiman.

 

Menurut Pak Sulaiman, dedikasi H. Serimin dalam dunia pendidikan dan keagamaan telah teruji bertahun-tahun. Beliau bukan sosok yang baru muncul, melainkan seseorang yang telah lama berada di tengah masyarakat, berbagi ilmu, dan membangun kesadaran sosial di setiap lapisan warga.

 

“Kehadiran Pak H. Serimin di dunia musabaqah dan pendidikan bukanlah sekadar mencari nama. Itu adalah bentuk pengabdian nyata. Beliau turun langsung, ikut serta, dan memberikan yang terbaik untuk desa. Kemenangan yang diraih, baik pertama maupun kedua, adalah bukti bahwa kemampuan beliau diakui bukan hanya oleh diri sendiri, tapi oleh para juri dan masyarakat yang menyaksikan.”

 

Oleh karena itu, Pak Sulaiman mengajak seluruh masyarakat Desa Barabali untuk mendoakan dan mendukung langkah H. Serimin, S.Pd.

 

“Jadi kita doakan saja, seperti yang beliau ucapkan — mudah-mudahan beliau ini menjadi pemenangnya. Amin ya rabbal alamin. Kita tidak mencari orang yang baru belajar mengabdi. Kita mencari orang yang sudah puluhan tahun ditempa di tengah masyarakat — mengajar, membimbing, dan melayani. Dan Pak H. Serimin adalah sosok yang kami maksud. Maka doakan beliau, dukung beliau, Insya Allah Barabali akan berada di tangan yang tepat,” pungkas Pak Sulaiman.

 

Jurnalis 

Mamen