Tembus US$1,8 Miliar! Garuda Indonesia Pangkas Rugi 23% Meski Harga Avtur Melonjak — Armada 104 Pesawat Kembali Terbang



POLICEWATCH -Jakarta.

Kabar menggembirakan datang dari maskapai kebanggaan negeri! PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat perbaikan kinerja yang signifikan pada Semester I 2026. Pendapatan melonjak 16% menjadi US$1,80 miliar, sementara kerugian bersih berhasil dipangkas hingga 23,2% meskipun biaya bahan bakar pesawat melonjak tajam akibat ketegangan global.

 

Pendapatan Naik Dua Digit, Penerbangan Haji & MRO Jadi Andalan

Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026 yang dipublikasikan di Bursa Efek Indonesia, pertumbuhan pendapatan didorong seluruh lini bisnis:

 

- ✅ Penerbangan berjadwal: US$1,31 miliar (naik 10,9%)

- ✅ Penerbangan tidak berjadwal — termasuk angkutan haji: US$272,8 juta (naik 32,5%), di mana pendapatan haji sendiri menyumbang US$232,2 juta atau naik 51,6%

- ✅ Bisnis perawatan pesawat (MRO): naik 43,8% menjadi US$87,4 juta

 

Avtur Melonjak, Garuda Tetap Efisien

Kenaikan harga avtur menjadi tantangan terberat — biaya bahan bakar melonjak 43,6% menjadi US$677,6 juta, porsinya terhadap pendapatan naik dari 30,5% menjadi 37,7%. Namun di luar itu, Garuda berhasil menahan laju biaya: biaya non-bahan bakar hanya naik 3,9%, jauh di bawah pertumbuhan pendapatan 16%. Artinya, setiap pengeluaran kini dikelola jauh lebih efisien dibanding tahun lalu.

 

Beban Utang Turun, Armada Pulih — 104 Pesawat Kembali Beroperasi

Perbaikan kinerja tak lepas dari suntikan modal Danantara Asset Management senilai Rp23,67 triliun per akhir 2025. Beban keuangan turun 11,6%, utang keseluruhan menyusut menjadi US$3,76 miliar, dan arus kas operasional kembali positif US$253,1 juta. Kas perseroan tercatat US$624,3 juta.

 

Pesawat-pesawat yang sempat berhenti terbang kini kembali diaktifkan. Hingga Juni 2026, jumlah armada operasional mencapai 104 pesawat. Presiden Prabowo Subianto pun menyebut Garuda yang nyaris dipailitkan kini mulai melihat harapan untuk kembali untung.

 

Masih Rugi, Tapi Semakin Menipis

Rugi bersih menyusut dari US$147,1 juta menjadi US$113,0 juta — turun 23,2%. Ekuitas juga membaik drastis: defisiensi modal yang sempat US$1,50 miliar kini menyusut menjadi US$52,2 juta. Transformasi bisnis terus berjalan, dan dampak intervensi serta perbaikan manajemen mulai terlihat nyata di semester pertama dan kedua tahun ini.

 

Garuda Indonesia belum sepenuhnya bebas dari zona merah, namun arahnya sudah jelas: naik, pulih, dan siap kembali terbang tinggi.

 

Mamen 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berita Terkini