PB HMI MPO Kecam Kebrutalan Polisi Terhadap Peserta Aksi “20 Tahun Reformasi”

/ Selasa, 22 Mei 2018 / 15.56
Reporter Alim Bara
Suasanaaksi demonstrasi 20 Tahun Reformasi di depan Istana Negara
Jakarta,POLICEWATCH.NEWS,-Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (PB HMI MPO) mengecam keras tindakan brutal yang dilakukan aparat Kepolisian Polda Metro Jaya terhadap sejumlah kader HMI yang menggelar aksi demonstrasi 20 Tahun Reformasi di depan Istana Negara, Senin (21/05).
“PB HMI mengutuk keras tindakan aparat kepolisian yang mengakibatkan kader HMI kritis dan dirawat di Rumah Sakit. Seharusnya aparat kepolisian pengayom mahasiswa dan masyarakat yang menyampaikan aspirasi,” ujar Ketua Komisi Pemuda dan Mahasiswa, Abubakar, Senin (21/05) malam, seperti dilansir dari Akurat.com.
Abubakar mendesak aparat yang melakukan tindakan brutal dalam mengamankan demonstrasi tersebut diproses oleh Divisi Profesi dan Pengamanan (DIV PROPAM) Polri atas dugaan pelanggaran dalam menjalankan tugasnya.
“Harus diproses oleh Propam atas tindakan brutal itu, karena ada dugaan pelanggaran. Apalagi ini era reformasi yang menjunjung tinggi kebebasan dalam menyampaikan pendapat di muka umum,” pungkasnya.
Mahasiswa Universitas Nasional ini pun menginstruksikan seluruh kader HMI se-Indonesia untuk melakukan aksi sebagai bentuk kecaman terhadap tindakan yang mengakibatkan 7 kader HMI dalam kondisi kritis di Rumah Sakit.
“Kami menginstruksikan kepada seluruh kader HMI se-Indonesia untuk melakukan aksi solidaritas terkait kekerasan aparat kepolisian yang mengakibatkan kader HMI cabang Jakarta terluka dan kritis,” tegasnya.
Sebelumnya, aksi demonstrasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) MPO cabang Jakarta terkait “Refleksi 20 tahun Reformasi: Jokowi Pemimpin Haram” berujung bentrok dengan petugas kepolisian di Istana Negara.
Akibatnya, tujuh orang peserta demo dirawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.
salah satu mahasiswa yang dirawat di Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan.
Ketujuh mahasiswa yang tergabung dalam HMI tersebut yakni Al Azhar Musa (Ketua Cabang HMI MPO), Irfan Maftuh (Korlab Aksi/ketua umum Front Nasional MPI), Arnol (HMI MPO), Ahmad Kerley (HMI MPO), Alfian (HMI MPO), Arif Ibnu Halim (HMI MPO) dan Lucky Mahendra (HMI MPO). Ke 7 mahasiswa dipukul oleh aparat kepolisian di depan Istana Negara saat melakukan aksi demonstrasi 20 Tahun Reformasi.
“Di era demokrasi sebagai buah dari reformasi, kebebasan berpendapat dan berekspresi dijamin UU, dan saya kira kritikan konstruktif sehat bagi kehidupan berbangsa harus dihargai, “ujar Ketua Umum PB HMI, Respiratori Saddam Al Jihad melalui rilisnya, Selasa (22/05/2018).
Saddam Al Jihad menuturkan saat masih ada kritik dalam beragam bentuk, termasuk aksi demonstrasi itu pertanda baik bagi demokrasi. Ia menegaskan, aparat sebagai pengayom rakyat semestinya lebih menekankan pendekatan persuasif dalam berkomunikasi dengan mahasiswa.
“Kritikan dari mahasiswa bukti kecintaan mereka kepada bangsa dan negara ini,” ujarnya.
Saddam Al Jihad menambahkan, persoalan kemanusiaan ialah keutamaan bagi demokrasi.
“Ketika hak sipil dibungkam dengan cara-cara yang represif, itu artinya Indonesia sedang mengalami krisis kemanusiaan,” tegasnya.
Ia menyerukan agar tindakan represif aparat tidak terulang kembali. Sebab mahasiswa adalah penerus generasi bangsa di masa depan yang akan menggantikan pemimpin hari ini.pungkasnya''
Komentar Anda

Berita Terkini