Sejarah dan Kisah Syekh Maulana Maghribi : Sang Penurun Raja Jawa

/ Rabu, 29 April 2020 / 23.47
Salah satunya makam Syekh Maulana Maghribi di Parangtritis, Bantul.


Oleh : M Rodhi irfanto
Red, POLICEWATCH, Kabupaten Bantul bukan hanya menghadirkan keindahan pantai dan panorama alam semata, tetapi sarat akan nilai dan kekayaan sejarah, Banyak kisah lampau hingga kini masih terpatri apik. Salah satunya makam Syekh Maulana Maghribi di Parangtritis, Bantul.


Juru kunci yang juga Abdi Dalem Parangkusumo Mas Sutopo saat ditemui POLICEWATCH, Kamis (21/6/2018) menceritakan Syekh Maulana Maghribi, konon merupakan penyebar agama Islam generasi pertama di tanah Jawa.

Ia adalah tokoh besar yang berasal dari Maroko, Afrika bagian Utara, Banyak versi terkait kisah sejarah wali Allah yang satu ini di antaranya banyaknya makam dan petilasan beliau  ditanah jawa ini


"Untuk keperluan apa beliau datang ke Parangtritis? Untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa," tuturnya. Ketika sampai di Parangtritis, diceritakan dia, Syeh Maulana Maghribi bertemu dengan Joko Dandung dan Joko Jantrung, Konon, keduanya adalah putra dari Raja terakhir Majapahit, Brawijaya V.


Namun, ada yang menyebutkan bahwa Joko Dandung dan Joko Jantrung hanya bersahabat, Satu perguruan, Dikemudian hari, Joko Dandung dan Joko Jantrung ini diketahui adalah nama lain dari Syekh Bela-Belu dan Syekh Damiaking.

Makam kedua tokoh ini berada di gunung Banteng, Parangtritis, Tidak terlalu jauh dari makam Syekh Maulana Maghribi.


Dikatakan Mas Sutopo, Joko Dandung dan Joko Jantrung saat bertemu dengan Syekh Maulana Maghribi, kala itu masih memegang teguh agama nenek moyang. Hindu dan Budha.

Kedatangan Syekh Maulana Maghribi di Parangtritis -yang bertujuan untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa--direstui oleh keduanya dengan sejumlah persyaratan.

- "Syarat pertama, masyarakat jangan dipaksa. Memeluk agama harus dengan suka rela," terangnya.
Permintaan itu oleh Syekh Maulana Maghribi disanggupi, Hingga akhirnya, berkelindan waktu, Islam kini bisa berkembang dan menyebar menjadi agama yang dianut oleh hampir mayoritas masyarakat Parangtritis dan sekitarnya.

- Syarat selanjutnya, agama Islam jangan hanya disebarkan bersifat lahir semata, akan tetapi juga batin.
Masyarakat Jawa, kata mas Sutopo sudah dari zaman dahulu dikenal memiliki olah kebatinan yang tinggi

"Antara lahir dan batin ini harus seimbang. Islam ini disebarkan dengan lahir dan batin. Jadi jika ada ustad kemudian diundang untuk menyampaikan agama, tapi dipikiran terbersit. Ini nanti amplopnya berapa. Itu tidak bisa," katanya, lalu terkekeh."Antara hati dan pikiran harus menyatu,"



Penurun Raja Jawa

Berdasarkan silsilah garis keturunan yang tertera di kompleks makam, Syekh Maulana Maghribi diketahui merupakan putra dari Nyai Tabirah, keturunan dari Syeh Majidil Qubro.


Ia menikah dengan Dewi Rosowulan yang tidak lain merupakan saudara kandung dari Sunan Kalijaga (Raden Sahid), putra dari RT Wilatikta, Pernikahan tersebut dikaruniai anak bernama Joko Tarub II.
Joko Tarub II menikah dengan Dewi Nawangwulan yang kemudian dikaruniai putri bernama, Dewi Nawangsih, Dewi Nawangsih ini kemudian menikah dengan R. Bondan Gejawan.
Ia adalah putra dari Prabu Brawijaya V.

Pernikahan keduanya melahirkan trah Ki Ageng Getas Pendawa, Ki Ageng Selo, Ki Ageng Nis, lalu Ki Gede Pemanahan., Ki Gede Pemanahan memiliki putra bernama Danang Sutawijaya.

Kelak, dikemudian hari Ia lebih dikenal dengan gelar Panembahan Senopati.
Pendiri Kesultanan Mataram dan juga dikenal sebagai sosok peletak dasar kesultanan.

Bertahta tahun 1587 - 1601.
Penembahan Senopati kemudian digantikan oleh Kanjeng Susuhunan Hadi Prabu Hanyakrawati.
Bertahta tahun 1601 - 1613.
Kemudian berlanjut ke Sultan Agung Hanyakrakusuma.
Naik tahta 1613 - 1645.
Di bawah kepemimpinan Sultan Agung, Mataram berkembang menjadi kerajaan besar di tanah Jawa dan Nusantara kala itu.

Dari silsilah tersebut. .."Syeh Maulana Maghribi bisa dikatakan sebagai penurun raja-raja di tanah Jawa," 


Ramai Dikunjungi Peziarah

Makam syekh Maulana Maghribi berada di atas sebuah bukti di Parangtritis, Untuk berkunjung kesana, peziarah harus naik jalan kaki melewati ratusan anak tangga. Makamnya berada dipuncak, Di komplek area makam terdapat pendopo.

Ada pula deretan bangunan yang biasa digunakan bagi para peziarah untuk menginap, Juru Kunci, Mas Sutopo menceritakan, makam Syekh Maulana Maghribi di Parangtritis ramai dikunjungi oleh peziarah dari berbagai daerah, Utamanya ketika malam selasa dan Jumat Kliwon.

Terlebih, saat kalender Jawa, bulan ruwah. Menurutnya tidak pernah sepi peziarah.
"Biasanya datang rombongan. Dari Jawa timur, Surabaya, Semarang, Kendal, Tegal. Sampai Jawa Barat. Kalau bulan ruwah pendopo sampai tidak muat,"

Cerita versi lain

Siapa sebenarnya Syekh Maulana Maghribi itu? Berdasarkan salah satu cerita atau babad sejarah
Kerajaan Demak, Syekh Maulana Maghribi adalah seorang pemeluk agama Islam dari Jazirah Arab.
Beliau adalah penyebar agama Islam yang memiliki ilmu sangat tinggi. 

Sebelum sampai di Demak, beliau terlebih dahulu mengunjungi tanah Pasai (Sumatera). Sebuah riwayat juga mengatakan bahwa Maulana Maghribi masih keturunan Nabi Muhammad SAW dan masuk golongan waliullah di tanah Jawa.

Syekh Maulana Maghribi mendarat di Jawa bersamaan dengan berdirinya Kerajaan Demak. Beliau datang dengan tujuan untuk mengIslamkan orang Jawa. 

Runtuhnya Kerajaan Majapahit (tonggak terakhir kerajaan Hindu di Jawa) diganti dengan berdirinya Kerajaan Demak yang didukung oleh para wali (orang takwa).

Sesudah pelaksanaan pemerintahan di Demak berjalan baik dan rakyat mulai tenteram, para wali
membagi tugas dan wilayah penyebaran agama Islam. 

Tugas pertama Syekh Maulana Magribi di daerah Blambangan, Jawa Timur. Beberapa saat setelah menetap di sana, Syekh Maulana Maghribi menikah dengan putri Adipati Blambangan. Namun pernikahan baru berjalan beberapa bulan, beliau diusir oleh Adipati Blambangan karena terbukanya kedok bahwa Syekh Maulana ingin menyiarkan agama Islam.

Setelah meninggalkan Blambangan, Syekh Maulana Maghribi kemudian menuju Tuban. Di Kota tersebut, Syekh Maulana Maghribi ke tempat sahabatnya yang sama-sama dari Pasai, satu saudara dengan Sunan Bejagung dan Syekh Siti Jenar. Dari kota Tuban, Syekh Maulana Maghribi kemudian melanjutkan pengembaraan syiar agamanya ke Mancingan. Ketika menyebarkan Islam di Mancingan, Syekh Maulana sebenarnya sudah memiliki putra lelaki bernama Jaka Tarub (atau Kidang Telangkas) dari istri bernama Rasa Wulan, adik dari Sunan Kalijaga (R Sahid). Tatkala ditinggal pergi ayahnya, Jaka Tarub masih bayi.

Saat meninggalkan Blambangan, sesungguhnya istri Syekh Maulana Maghribi juga tengah mengandung seorang putra yang kemudian bernama Jaka Samudra. Belakangan hari Jaka Samudra juga menjadi waliullah di Giri, yang bergelar Prabu Satmata atau Sunan Giri.

Sebelum Syekh Maulana Magribi sampai Mancingan, di sana sudah menetap seorang pendeta Budha
yang pandai bernama Kyai Selaening. 

Kediaman pendeta tersebut di sebelah timur Parangwedang. Tempat pemujaan pendeta dan para muridnya di candi yang berdiri di atas Gunung Sentana. Mula- mula Syekh Maulana menyamar sebagai murid Kyai Selaening. 

Dalam kehidupan keseharian, Syekh Maulana kadang-kadang memperlihatkan kelebihannya pada masyarakat setempat. Lama kelamaan Kyai Selaening mendengar kelebihan yang dimiliki Syekh Maulana Maghribi. Akhirnya Kiai Selaening memanggil Syekh Maulana Maghribi dan ditanya siapa sebenarnya dirinya.

Kesempatan itu dimanfaatkan oleh Syekh Maulana Maghribi untuk menyampaikan kepada Kyai Selaening tentang ilmu agama yang sebenarnya. Kedua orang tersebut kemudian saling berdebat
ilmu. Akan tetapi karena Kyai Selaening tidak mampu menandingi ilmu Syekh Maulana, sejak saat itu Kiai Selaening ganti berguru kepada Syekh Maulana. Kiai Selaening kemudian masuk agama Islam.

Pada waktu itu, di padepokan Kyai Selaening sudah ada dua orang putra pelarian dari Kerajaan Majapait yang berlindung di sana yaitu Raden Dhandhun dan Raden Dhandher. Keduanya anak dari Prabu Brawijaya V dari Majapait. Karena Kyai Selaening masuk Islam, dua putra Raja Majapait itu juga kemudian menjadi Islam. Kedua orang itu kemudian berganti nama menjadi Syekh Bela-Belu dan Kyai Gagang (Dami) Aking.

Meski berhasil mengislamkan Kiai Saleaning dan para muridnya, Syekh Maulana tidak segera meninggal Mancingan. Di sana beliau tinggal selama beberapa tahun, membangun padepokan dan mengajarkan agama Islam kepada warga desa. Beliau tinggal di padepokan di atas Gunung Sentono dekat candi. Candi tersebut sedikit demi sedikit dikurangi fungsinya sebagai tempat pemujaan.

Hingga meninggal, Kyai Selaening masih menetap di padepokan sebelah timur Parangwedang. Sebelumnya beliau berpesan kepada anak cucunya agar kuburannya jangan diistimekan.

Baru tahun 1950-an makam Kiai Selaening dipugar oleh kerabat dari Daengan . Kemudian pada tahun 1961 diperbaiki hingga lebih baik lagi oleh salah seorang pengusaha dari kota.

Sesudah dianggap cukup menyampaikan syiar di sana, Syekh Maulana meninggalkan Mancingan kemudian berpesan agar padepokannya dihidup-hidupkan seperti halnya ketika orang-orang itu menjaga candi. Di padepokan tersebut kemudian orang-orang membuat makam bernisan. Siapa yang ingin meminta berkah Syekh Maulana cukup meminta di depan nisan tersebut, seolah berhadapan langsung dengan beliau. Sesudah dari Mancingan, Syekh Maulana Maghribi atau Syekh Maulana Malik Ibrahim melanjutkan syiar agama Islam ke wilayah Jawa Timur. 

Setelah meninggal jenazahnya dimakamkan di makam Gapura, wilayah Gresik.

Silsilah Syekh Maulana Maghribi menurunkan raja-raja Mataram: 
- Syekh Jumadil Qubro (Persia Tanah Arab) --- Ny Tabirah --- Syekh Maulana Maghribi + Dewi Rasa Wulan, putri Raden Temenggung Wilatikta Bupati Tuban (diperistri Syekh Maulana) ---Jaka Tarub (memperistri Dewi Nawangwulan) --- Nawangsih (memperistri Raden Bondhan Kejawan) --- Kiai Ageng Getas Pendhawa --- Kiai Ageng Sela --- Kiai Ageng Anis/Henis --- Kiai Ageng Pemanahan (Kiai Ageng Mataram) --- Kanjeng Panembahan Senapati --- Kanjeng Susuhunan Seda Krapyak-Kanjeng Sultan Agung Anyakrakusuma-Kanjeng Susuhunan Prabu Amangkurat (Seda Tegalarum)-Kanjeng Susuhunan Paku Buwana I-Kanjeng Susuhunan Mangkurat Jawi-raja-raja Keraton Surakarta, Yogyakarta, Pakualaman, dan Mangkunegaran.

Kendati makam Syekh Maulana di Gunung Sentana bukan tempat jenazah yang sebenarnya, tetapi setiap ada rombongan peziarah Wali Sanga selalu memerlukan ziarah di makam Syekh Maulana Parangtritis. 

Seperti halnya makam leluhur keraton lainnya, setiap bulan Sya’ban, makam Syekh Maulana Maghribi juga menerima uang dan perlengkapan pemberian dari Keraton Yogyakarta. Setiap
tanggal 25 Sya’ban di makam ini diadakan upacra sadranan


Cerita versi lain

Kisah Syekh Maulana Magribi di Gunung Panungkulan Menghislamkam Putra Raja Pajajaran Melalui Adu Kesaktian Syekh Maulana Magribi seorang wali yang berasal dari Timur Tengah datang ke Pulau Jawa setelah mendapat ilham untuk  mendatang Tiga Cahaya Putih. Ia berhasil mengislamkam seorang  pertapa anak Raja Pajajaran yang telah menguasai cahaya tersebut setelah adu kesaktian. Berikut ini kisahnya.       


- Syekh Maulana Magribi seorang ulama dari Timur Tengah bukan hanya memiliki ilmu agama yang cukup tinggi. Tapi juga mempunyai ilmu karomah tingkat tinggi. Oleh karena itu, dalam dakwahnya juga menggunakan ilmu karomah yang disertai ilmu silat tenaga dalam. Hal tersebut sesuai dengan zamannya.

Suatu hari  Syekh Maulana Magribi,  sesudah sholat Subuh mendapat Ilham agar menemukan  tiga buah cahaya putih menjulang tinggi diangkasa yang letaknya di Pulau Jawa.  Maka berangkatlah  bersama-sama dengan 298 sahabatnya menuju Pulau Jawa dengan mengarungi samudera yang ombaknya cukup besar.

Kemudian sampailah mereka di pelabuhan  Gresik. Dipandangilah langit-langit yang penuh dengan bintang. Tapi tidak terlihat  ada tanda-tanda tiga cahaya putih yang sesuai dengan ilhamnya.   

Setelah sekian lama tinggal di Gresik, terlihatlah cahaya terang yang sedang dicarinya itu disebelah barat. Kemudian mengambil keputusan kembali kearah barat menuju pelabuhan  Pemalang Jawa Tangah. 

Ditempat tersebut Syekh Maulana Maghribi meminta para armadanya untuk pulang ke negerinya, sedangkan Syekh Maulana Maghribi ditemani oleh Haji Datuk dan untuk sementara bermukim ditempat itu

Karena tekadnya yang kuat, pendakian itu dilakukan hingga akhirnya sampailah  di tempat yang dituju. Terlihat oleh mereka seorang pertapa yang menyandarkan dirinya pada sebatang pohon jambu yang mengeluarkan sinar yang bercahaya menjulang tinggi ke angkasa.

Dari Pemalang menuju ke selatan menyusuri hutan belantara tanpa mengenal bahaya ‘Pertapa itu adalah Raden Mundingwangi putra Raja Pajajaran I.  Ia tidak mau dinobatkan menjadi raja menggantikan ayahnya. Tapi lebih suka menjadi seorang pertapa disejumlah gunung. 

Bahkan berhasil menemukan Tiga Cahaya Putih  beserta 160 pengikutnya di Gunung Panungkulan di Desa Grantung Kecamatan Karangmoncol,”ungkap KH. KRT. MUrsyiddafa Alfatahillah, SH, MA pewaris ilmu Syekh Jambu Karang dari Banjarnegara. .

Perlahan-lahan Syekh Maulana Maghribi dan Haji Datuk menuju mendekati tempat tersebut sambil mengucapkan salam ‘Assalamu’alaikum’, tetapi tidak dijawab oleh Raden Mundingwangi. Karena tidak paham dengan bahasa Arab. Lantas  Haji Datuk dan  Syekh Maulana Maghribi menyapa dengan bahas India.


Mendengar bahasa India, maka  Raden Mundingwangi menjawab : ‘Sesungguhnya saya ini adalah orang Budha yang Sakti’. Kemudian  Syekh Maulana Maghribi meminta kepada pertapa tersebut untuk menunjukkan kesaktiannya. 

Maka  diambillah tutup kepalanya yang berupa kopiah itu dapat terbang di angkasa. Syekh Maulana Maghribi  mengimbangi dengan melepaskan bajunya dan dilemparkan keatas, ternyata baju tersebut dapat terbang di udara dan selalu menutupi kopiah si pertapa. 

Hal itu menandakan bahwa kesaktiannya lebih unggul. Tetapi Raden Mundingwangi belum mau menyerah dan masih akan mempertontonkan lagi kepandaiannya yang berujud menyusun telur setinggi langit.

Syekh Patas Angin Melihat keadaan tersebut diatas Syekh Maulana Maghribi merasa heran, namun demikian ia tidak mau dikalahkan begitu saja, maka dengan tenangnya diperintahkan kepada si pertapa agar ia mau mengambil telur itu satu persatu dari bawah tanpa ada yang jatuh.

Ternyata pertapa itu tidak sanggup melakukannya. 

Karena si pertapa sudah benar-benar tidak melakukannya hal tersebut, maka Syekh Maulana Maghribi mengambil tumpukan telur tadi dimulai dari bawah sampai selesai dengan tidak ada satupun yang jatuh.

Syekh Maulana Maghribi masih merasa belum puas dan masih meneruskan perjuangannya sekali lagi dengan memperlihatkan pemupukan periuk-periuk berisi air sampai menjulng tinggi. Lalu, Syekh Maulana Maghribi berkata : ‘Ambillah periuk-periuk itu satu demi satu dari bawah tanpa ada yang berjatuhan’. Setelah ternyata tidak ada kesanggupan dari Raden Mundingwangi, maka beliau sendirilah yang melakukannya dan periuk yang terakhir itu pecah dan airnya memancar kesegala penjuru.

Akhirnya Raden Mundingwangi menyerah kalah serta berjanji akan memeluk agama Islam. Janji tersebut diterima oleh Syekh Maulana Maghribi dan Jambu Karang diperintahkan untuk memotong rambut dan kukunya dan selanjutnya dikubur di ‘Penungkulan’ (tempat dimana si pertapa menyerah kalah). 

Kemudian dilakukan upacara penyucian dengan air zam-zam yng dibawa oleh Haji Datuk dari Tanah Suci atas perintah Syekh Maulana Maghribi dengan mempergunakan tempat dari bambu (bumbung).
Setelah upacara penyucian selesai, bumbung berisikan sisa air disandarkan pada pohon waru, tetap karena kurang cermat menyandarkannya maka robohlah bumbung tadi dan pecah sehingga air sisa tersebut berhamburan dan di tempat tersebut konon kabarnya menjadi mata air yang tidak mengenal kering dimusim kemarau.

Adapun Syekh Jambu Karang tetap bermukim di Gunung Kraton, dan setelah wafat dimakamkan ditempat itu pula dan tempat pemakamannya disebut ‘Gunung Munggul’ (puncak yang tertinggi didaerah itu).

Sesaat setelah Syekh Jambu Karang menerima wejangan, turun hujan lebat disertai dengan angin ribut yang mengakibatkan pohon-pohon disekeliling tempat itu menundukkan dahan-dahannya seperti sedang menghormati Gunung Kraton yaitu tempat dimana Syekh Maulana Maghribi sedang memberikan wejangan (membai’at) Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim.

Sebagai rasa terimakasih, maka  Syekh Jambu Karang mempunyai seorang putri bernama ‘Rubiah Bhakti’ yang dipersunting oleh Syekh Maulana Maghribi, setelah Syekh Jambu Karang menjadi seorang Muslim dengan mas kawin berupa mas merah setanah Jawa.

Setelah memperistrikan putri Syekh Jambu Karang, Syekh Maulana Maghribi berganti nama menjadi ‘Atas Angin’. Dari perkawinannya tersebut menurunkan lima orang putera dan puteri, yaitu :Makdum Kusen,  Makdum Medem, Makdum Umar,  Makdum,  Makdum Sekar.

Setelah pertapa disucikan menjadi pemeluk agama Islam, maka namanya diubah menjadi ‘Syekh Jambu Karang’. Kemudian Syekh Jambu Karang akan mendapatkan wejangan (bai’at), beliau menunjukkan suatu tempat yang serasi dan cocok untuk upacara bai’at tersebut yaitu diatas bukit ‘Kraton’.

Sumber : Babat tanah jawi 
              : Wali songo tahap Pertama 
              : SEJARAH

Komentar Anda

Berita Terkini