SEMBOYAN SEORANG JURNALIS " HIDUP HARUS TERUS BERKARYA" AGAR BERMANFAAT DAN JADI IBADAH

/ January 24, 2020 / 1/24/2020 03:00:00 AM

Dok : Policewatch

Red, POLICEWATCH ,- Media Masa adalah alat sumber kabar sebuah komunitas masyarakat. Dapat dibayangkan sebuah komunitas masyarakat tanpa adanya media massa akan mengalami penurunan kualitas baik secara modernisme, ekonomi, infrastruktur dan intelektualitas.
Khusunya dalam dunia informasi, peran media massa sangat menentukan alur perjalanan ideologi masyarakat, maka jika ingin melihat kebenaran sebuah negara lihatlah medianya. Sehingga tak jarang kalangan elit politik dan kaum hartawan memanfaatkan media untuk kepentingan masing-masing.
Dalam hal ini, sang peliput kabar baik fotografer, videografer, jurnalis, reporter dan kawan-kawannya hingga pemilik perusahaan media bertanggung jawab atas konten berita yang ditulis.
Kebanyakan wartawan hari ini lupa akan idealismenya sebagai sosok yang bersih, jujur dan adil dalam penulisan sehingga tak heran beberapa kaum elit di atas “membayar” wartawan untuk citra diri dan perusahaan/jabatan politik.
Padahal dalam Islam menulis itu di ibaratkan sebagai pisau berbilah dua, jika dipegan oleh orang yang tepat pisau itu akan menusuk orang yang salah, jika dikendalikan oleh serampangan orang akan menusuk dirinya sendiri.
Menurut saya dalam Islam melihat segala bentuk media tulis sebagai ladang pahala dan di waktu bersamaan tulisan dapat menjadi dosa. Perhatikan hadits di bawah: 
“Barangsiapa yang mengajak kepada suatu petunjuk, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dari pahala-pahala mereka. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan maka dia memperoleh dosa semisal dosa orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikit pun dari dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim)
Hadits di atas juga berlaku untuk wartawan yang menulis atas dasar pesanan/suap/bayaran orang tertentu untuk kepentingan dirinya dan tidak mempedulikan masyarakat umum. Contohnya seorang wartawan menulis berita soal pemerataan logistik pangan di suatu daerah yang terkena bencana, padahal fakta lapangan menunjukkan bantuan tersebut tidak merata, maka dari tulisan tersebut sang wartawan mendapat dosa dari orang yang memesannya plus rakyat yang kelaparan akibat tidak maksimalnya bantuan pangan.
Sebaliknya, wartawan yang memberitakan fakta dengan adil, bersih dan jujur maka Allah alan berikan balasan setimpal.

Persyaratan Menjadi Wartawan ada beberapa hal

Keingingan kuat untuk menjadi wartawan saja, tidak cukup untuk menjadikan seorang wartawan sukses. Ada sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Persyaratan itu merupakan kekhususan dan keterampilan tertentu. Dan persyaratan terpenting justru bukan hanya tingkat pendidikan?

Tingkat Pendidikan

Tahun 1980-an, perusahaan media membuat persyaratan untuk tingkat pendidikan yang mau menjadi wartawan minimal SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas) atau istilah sekarang Sekolah Menengah Atas (SMA). Periode itu lulusan SLTA dinilai memadai, karena sarjana muda dan sarjana (S1) sangat sulit didapatkan. Selain itu, lulusan SLTA periode itu memiliki kualitas yang unik (kalau tidak ingin mengatakan lebih baik dari lulusan SMA sekarang). Tetapi sejak tahun 1990-an, lulusan SMA tak mampu lagi mendukung persyaratan menjadi wartawan. Sebagian besar perusahaan media menetapkan syarat S1 untuk menjadi wartawan.

Apakah bisa menjamin lulusan S1 sukses menjadi wartawan yang dharapkan? Jawaban pasti, tidak menjamin. Sebab menjalankan profesi wartawan bukan berlandaskan ilmu yang diperoleh seseorang dari perguruan tinggi atau sekolah mana pun. Wartawan menjalankan ilmu terapan yang sederhana, tetapi jika semakin dipraktikan, dia akan manjadi seorang wartawan yang mumpuni. Bahkan ada seloroh, jika seorang wartawan tidak menulis dalam waktu 3 hari, dia akan jatuh sakit. Ya, menulis menjadi kecanduan yang luar biasa bagi wartawan yang tekun dan ulet.

Mengapa perusahaan media jarang sekali mengambil para lulusan perguruan tinggi dengan jurusan jurnalistik atau ilmu komunikasi? Ini jawabannya. Sebagian besar perusahaan media memang lebih menyukai menerima lulusan yang di luar jursan fakultas ilmu komunikasi, khususnya jurnalistik. Perusahaan akan mengambil lulusan jurusan lainnya seperti ekonomi, sosial, politik, kebudayaan dan sebagainya. Dengan ilmu-ilmu yang dipelajari calon dari perguruan tingginya, maka diharapkan akan mewarnai, menganalisis peristiwa-peristiwa yang diliputnya. Misalnya, calon wartawan yang sarjana ekonomi tentu akan lebih mudah memahami peningkatan harga bawang, terjadinya rush atau penarikan uang di sebuah bank atau tingkat suku bunga yang terus menerus naik tanpa terkendali, lebih mudah memahami gejala inflasi, deflasi atau kebijakan pemotongan nilai uang atau penyederhanaan mata uang. Calon wartawan yang bukan sarjana ekonomi tentu akan lebih sulit memahami dan membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami hal tersebut.

Peduli

Kepedulian terhadap manusia dan lingkungannya merupakan faktor yang penting bagi wartawan. Tanpa kepedulian itu, dia tidak akan mampu untuk mencermati berbagai bidang kehidupan, tidak akan mampu menemukan hal-hal yang unik dan menarik untuk disampaikan kepada pembaca, pendengar dan penonton. Coba bayangkan, seorang wartawan yang cuek jelas akan merugikan perusahaan media. Ketika mendengar ada tabrakan atau kejadian luar biasa seperti demam berdarah atau lainnya, dia tidak peduli dan asyik dengan urusan lain yang tidak punya hubungan dengan tugasnya sebagai kewartawanan. Yakinlah dia tidak akan mendapatkan berita itu.

Bahasa

Penguasaan bahasa merupakan persyaratan yang penting untuk menjadi seorang wartawan yang sukses. Bahasa itu mencakup bahasa tertulis atau lisan. Penguasaan bahasa memudahkan wartawan untuk memahami makna dan menggunakannya untuk menggambarkan peristiwa yang dilaporkan. Terkadang, penggunaan bahasa dan cara mengungkapkan fakta-fakta menjadi hal yang penting dan menyebabkan berita itu banyak dibaca, didengar dan ditonton audiens.

Bahkan, wartawan secara sadar atau tidak acapkali menjadi sumber untuk pengembangan bahasa. Karena wartawan menggunakan bahasa seefektif mungkin dan sering tak mengikuti tata bahasa yang baku. Akhrinya, wartawan menambah perbendaharaan dalam pengaturan standar penggunaan bahasa.

Tentu saja, ini membutuhkan rasa kecintaan wartawan terhadap bahasa. Wartawan akan selalu memeriksa ejaan, dan berusaha mengembalikan pada kosa kata yang benar. Keharusan wartawan dalam menuangkan tulisan atau lisan menuangkannya dalam format yang sederhana, jelas dan tidak menimbulkan berbagai penafsiran. Semakin lama, wartawan yang bersangkutan memiliki gaya sendiri yang khas dan bisa menjadi identitas si wartawan tersebut.

Menjaga Kepercayaan

Oranga percaya terhadap fakta-fakta yang dikemukakan wartawan. Karena itu, wartawan harus selalu berpikir kritis untuk tidak boleh mengkhianati kepercayaan yang diberikan pembaca. Caranya adalah sekuat tenaga wartawan memberitakan sesuatu dengan akurasi yang tinggi. Kecerobohan wartawan akan kesalahan fakta-fakta diyakini akan memerosotkan kepercayaan tersebut yang pada akhirnya berdampak pada kebangkrutan media akibat ditinggal pembaca.

Berpikir Kritis

Profesi sebagai wartawan akan menimbulkan banyak hal, terutama orang memberikan informasi untuk berbagai tujuan. Pemberian informasi itu bisa jadi bertujuan untuk kepentingan pemberi informasi atau kepentingan kelompoknya untuk “menghancurkan” lawan-lawan politik atau hal-hal yang tidak disukai. Karena itu, wartawan harus berpikir kritis, harus mampu mengenali hal tersebut, apakah informasi itu berisikan fakta-fakta yang benar atau menyesatkan. Karena itu, wartawan dituntut untuk mengembangkan kemampuan menggali informasi lebih lengkap, lebih dalam dan lebih berimbang agar bias dari pemberi informasi bisa terdistorsi sedemikian rupa, sehingga pembaca bisa mengenali fakta yang sebenarnya.

Agresif

Seorang wartawan dituntut untuk agresif, meskipun sikap ini terkadang menjengkelkan sumber yang sedang diwawancara. Keagresifan ini bertujuan untuk mengetahui lebih mendalam tentang berita yang sedang digali. Jangan biarkan berita itu lewat begitu saja. Padahal sumber berada di depan. Gali dan lengkapi berita itu, sehingga wartawan menjadi jelas atas sebuah persoalan, kemudian dibuat laporan untuk pembaca.

Sopan dan Ramah

Meski agresif, wartawan dituntut untuk tetap bersifat sopan dan ramah. Bahkan, keramahan dan sopan tetap harus ditunjukan kepada sumber yang tidak disukai.

Keandalan

Wartawan juga dituntut andal untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Ketika dia ditugaskan, maka dari editor hingga mesin percetakan menunggu hasil pekerjaannya. Keandalan itu harus dibuktikan dengan ketepatan waktu dan merampungkan tugas sesuai dengan yang ditetapkan.

Uang Bukan Segalanya

Sejak awal harus ditanamkan dalam benak para calon wartawan, bahwa uang bukan segalanya bagi profesi kewartawanan, meskipun uang sangat berpengaruh terhadap biaya operasi untuk mendapatkan berita dan kehidupan layak bagi si wartawan. Jika calon wartawan itu berniat mencari kekayaan yang melimpah ruah melalui profesi ini, sebaiknya niat menjadi wartawan itu diurungkan. Selayaknya, dia menjadi seorang pengusaha.

Bahwa menjadi wartawan harus memiliki kesadaran yang lebih tinggi dari profesi lainya karena di tangannya informasi dipercayakan untuk kepentingan publik. Keyakinan ada nilai-nilai yang harus diperjuangkan secara terus menerus dan tidak akan pernah berhenti selama ada manusia, ada negara, ada birokrat dan ada kehidupan di berbagai bidang.

Untuk melukiskan itu, izinkan menggunakan kata-kata yang terkesan sangat hebat; ada nilai kebenaran dari fakta-fakta yang ingin diketahui masyarakat pada setiap peristiwa. Fakta-fakta itu bisa dipercaya masyarakat karena prosesnya dijalankan oleh wartawan-wartawan andal yang memiliki presisi tinggi dalam mejunjung integritas kewartawanan***
Komentar Anda

Berita Terkini