Bulan Januari 2019 , Wabah DBD Capai Hingga 55 Kasus Di Kota Semarang

/ Sabtu, 02 Maret 2019 / 07.30

Reporter :M Taufik S

Dari kiri : Dekan Fakultas Kesehatan Undip Semarang,Dr. Budiyono, SKM. M.Kes, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Semarang, dr.Mada Gautama Soebowo,M.Kes, WakilKetua DPRD Kota Semarang, Wiwin Subiyono, Foto: M. Taufiq


Semarang, ( Police Watch.News ),- DBD (Demam Berdarah Dengue) sudah mewabqh kemana mana termasuk kota Semarang, Masyarakat seolah paranoid dengan kehadiran wabah itu. Setiapkali tubuh merasa demam masyarakat buru buru melakukan cek darah ke laboratorium untuk memastikan tidak terjangkit DBD.
Terkadang pula masyarakat harus keluar biaya untuk cek laboratorium yang dilakukan secara mandiri . Keresahan masyarakat terhadap wabah DBD ini harus mendapatkan tanggapan yang lebih serius dari Dinas Kesehatan Kota Semarang.

Pemerintah harus hadir dengan tindakan nyata ditengah masyarakat agar kegelisahan sosial
akibat ancaman DBD tidak menjadi momok yang menakutkan , Masyarakat juga jangan sampai
dilepaskan sendiri sehingga seolah semuanya menjadi tanggung jawab masyarakat.

Hadirnya Pemerintah ditengah masyarakat akan mampu mendorong masyarakat untukikut
waspada menghadapi penyakit DBD . degan kebijakan preventif yang tepat ini akan menjadi
mudah bagi pemerintah dan masyarakat Mengatasi DBD atau wabah, semisal di waktu waktu
mendatang. Data paada bulan januari 2019 ada 55 kasus DBD dim kota Semarang , angka ini
jauh lebih besar dari bulan januari 2018 sebanyak 5 kasus DBD. Langkah nyata harus segera
ditempuh untuk menurunkan jumlah penderita sehingga akan muncul rasa tenang dihati
masyarakat.
Pada kesempatan ini Wakil Ketua DPRD Kota Semarang, Wiwin Subiyono, menjelaskan bahwa Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan wabah musim yang mestinya harus disiapkan untuk infra strukturnya artinya setiaptahun mejelang musim hujan DBD mesti datang tingga kesiapan khususnya Dinas Kesehatan siap mengantisipasinya.dengan melakukan survey oleh petugas kesehatan dalam megantisipasi wabah se efektif mungkin.

Menurut Wiwin, ,jawa tengah pernah ranking 1 pada tahun 2013 mencapai 5000 kasus DBD,Dengan adnya Peda tentang DBD ternyata dapat menekan penurunan kasus DBD, sehingga jawa tengah menempati sampai ranking 14. Langkah langkah yang dilakukan pemkot sudah cukup tepat . dari pihak dewan sudah member paying hukumnya sehingga diharapkan penurunan angka pada kasus wabah DBD dapat lebih signifikan Harapan kami ditahun 2019 rangkingnya lebih baik dari pada tahun 2018, tetapi kayaknya kok sulit, justru awal maret 2019 jumlah penderita DBD malah lebih meningkat jumlahnya, “ Ucapnya, saat menjadi salah satu nara sumber dalam Dialog Parlemen Kota
Semarang dengan tema “ Waspada DBD yang disiarkan langsung olah MNC Trijaya FM, di ruang Bahana,Hotel Noormans jalan Teuku Umar no 27 Semarang, jumat 1/3/2019.

Sementara itu Ka Bid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Semarang, dr.Mada Gautama Soebowo,M.Kes, menuturkan, Menurut kami ciri ciri orang terkena DBD pertama tama badan terasa panas , normal kemudian panas lagi, hal ini membuat masyarakat paranoid/ ketakutan. Padahal kalau kita cermati penyakit yang karena panas selain DB, bisa tifoid/ thypus , berikutnya bisa juga masuk angin, flu, pilek.

Menurut Gama, biar masyarakat lebih paham apakah seseorang terkena DB yang paling mudah dilakukan adalah melakukan cek ke laborat trombositnya sekali lagi trombositnya saja ulang, Mada. Karena dengan trombosit kita bisa mengetahuinya . Masyarakat kalau mau mengecekkan ke laboratorium trombositnya biaya cukup terjangkau apalagi bisa menggunakan
BPJS, “ ucapnya.

Sementara itu pada kesempatan yang sama, Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip ,Dr. Budiyono, SKM. M.Kes, mengatakan,” Bahwa wabah DBD resikonya tingkat tinggi karena nyawa taruhannya oleh karena itu masyarakat harus bisa memahami, misalnya kalau ada demam tinggi apa yang harus dilakukan ? kemudian pihak pelayanan kesehatan juga harus memperhati kan kalau ada panas tinggi pada pasien maka harus diperhatikan apakah diagnosanya betul betul  mengarah pada DB atau thypus, atau radang. Jadi menurut kami wajar kalau masyarakat khawatir , tetapi disini perlu penjelasan sehingga kekhawatiran berkurang,”Pungkasnya.

Komentar Anda

Berita Terkini