POLICEWATCH-PRINGGARATA
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diharapkan menjadi penunjang gizi dan kesehatan anak-anak di Kabupaten Lombok Tengah, justru menyisakan keluhan mendalam di lapangan. Di Kecamatan Pringgarata, sejumlah anak penerima manfaat diketahui sering tidak menghabiskan makanannya karena rasa dan porsi yang dinilai kurang memuaskan — bahkan muncul dugaan kuat bahwa oknum pengelola dapur lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada kualitas makanan yang disajikan kepada anak-anak.
Kejadian ini terungkap pada Kamis, 3 September 2026, ketika makanan yang disalurkan oleh dapur MBG yang berlokasi di Selakan, Desa Situng didistribusikan ke sekolah-sekolah di wilayah Kecamatan Pringgarata.
Berdasarkan pantauan dan keterangan langsung dari anak-anak penerima manfaat, menu yang disajikan hari itu berupa ikan goreng, sayur wortel, dan tahu. Namun hampir sebagian besar anak tidak menghabiskannya. Ketika ditanya alasannya, jawaban mereka hampir serentak: "Tidak enak."
Faktor utama yang membuat nafsu makan anak-anak menurun adalah bumbu masakan yang kurang pas dan kurang enak. Selain itu, porsi sayur wortel dinilai terlalu sedikit — hanya beberapa potong — dan tahu yang disajikan pun berukuran potongan kecil. Ikan goreng yang seharusnya menjadi sumber protein utama, ternyata juga tidak disukai anak-anak karena rasanya yang kurang enak.
Kondisi ini memunculkan kecurigaan di kalangan pendidik maupun warga. Diduga oknum pengelola dapur MBG tersebut lebih mementingkan keuntungan pribadi daripada kualitas makanan yang disajikan kepada anak-anak. Bahan makanan yang dinilai kurang berkualitas, bumbu yang dihemat-hemat, dan porsi yang diperkecil — semuanya mengarah pada satu hal: pengelolaan yang tidak transparan dan mengutamakan keuntungan di atas manfaat bagi anak-anak.
Beberapa guru yang mengamati hal ini menyampaikan bahwa hal yang paling mendesak untuk diperhatikan oleh pihak pengelola dapur MBG adalah bumbu dan kualitas masakan. Sebagus apapun bahan makanannya, jika bumbunya tidak enak dan kualitasnya dihemat-hemat, anak-anak tidak akan habis memakannya — padahal tujuan utama program ini adalah memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup.
"Yang paling penting diperhatikan itu bumbu dan kualitasnya, Pak. Kalau oknum pengelola hanya mengejar keuntungan, bahan dihemat, bumbu tidak sesuai, anak pasti tidak habis makan. Sayang sekali, program sebaik ini kalau hanya dijadikan ladang keuntungan semata," ungkap salah satu guru yang enggan disebutkan namanya.
Kekhawatiran semakin nyata: jika kondisi ini terus berlanjut, tujuan program MBG untuk meningkatkan gizi anak tidak akan tercapai secara optimal. Makanan yang disiapkan dengan harapan tinggi justru berpotensi terbuang sia-sia karena pengelolaan yang diduga hanya mementingkan keuntungan.
Anak-anak dan para pendidik berharap pihak pengelola dapur MBG di Selakan, Desa Situng, segera introspeksi diri. Perbaiki kualitas masakan, perhatikan bumbu, dan jangan lagi mengutamakan keuntungan di atas perut dan gizi anak-anak.
"Kami senang ada program ini, tapi kami ingin yang benar-benar bergizi dan enak. Jangan sampai program ini hanya menguntungkan oknum tertentu saja, sementara kami yang makan tidak habis-habis," kata salah satu anak dengan polos.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak pengelola dapur MBG maupun Dinas terkait. Masyarakat berharap inspeksi dan evaluasi segera dilakukan agar Program Makan Bergizi Gratis benar-benar menjadi berkah bagi anak-anak, bukan ladang keuntungan bagi oknum tertentu.
Jurnalis
Mamen
