Rocky Gerung :Bongkar Motif Jokowi Dibalik Rencana Pembebasan Ustadz Abu Bakar Baa'syir di ILC

/ Kamis, 31 Januari 2019 / 09.06


Reporter : IRFAN / MRI
Rocky Gerung 


Red, POLICEWATCH.NEWS,- Pengamat politik Rocky Gerung membongkar motif Jokowi dibalik rencana bebaskan Ustadz Abu Bakar Baa'syir.
Hal itu disampaikan Rocky Gerung saat menjadi pembicara di ILC TVOne, Selasa (29/1/2019) malam.
Rocky Gerung mendapat kesempatan berbicara soal polemik batalnya pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir.
Pada kesempatan itu, Rocky Gerung mengatakan, polemik yang terjadi memperlihatkan ada kekacauan di dapur kekuasaan.
"Ada pepatah mengatakan, terlalu banyak koki, terlalu banyak tukang masak, membuat sup itu tumpah berantakan. Itu yang terjadi sekarang. Tumpah berantakan sup itu," katanya.
Rocky sempat mengkritisi judul ILC. Menurutnya judul itu kurang menggigit. 
"Mestinya hoaks atau bukan. Saya menganggap yang disebutkan presiden kemarin adalah hoaks. Presiden sekali lagi bikin hoaks," tegasnya.
Rocky gerung mengatakan, presiden dibantah oleh bawahannya dan itu tidak elok sebetulnya.
"Anda bayangkan bahwa Pak Tito menerangkan secara lengkap urut-urutan peristiwa, konsekuensi diplomasi karena soal terorisme ini adalah investasi internasional, seharusnya pak Tito yang mengucapkan pikiran pemerintah. Bukan presiden," katanya.
"Supaya kalau pak Tito bikin kesalahan, presiden masih bisa koreksi," lanjutnya.
Rocky Gerung melanjutkan, ini ngaconya presiden yang mengambil alih sesuatu sehingga dia dikoreksi oleh anak buahnya.
"Karena gak mungkin lagi ada yang di atas presiden mengkoreksi hoaks yang dibuat presiden," katanya.
"Ini soal kegagalan memperlihatkan dikniti dan bonafiditas dari presiden sebagai kepala negara," lanjutnya.
Rocky Gerung menyamakan polemik itu dengan aktivitas presiden membagi-bagi sertifikat yang sebetulnya didiamkanpun rakyat tetap dapat sertifikat.
"Jadi seolah-olah kasih sayang negara. Padahal itu hak warga negara bukan soal kasih sayang negara," kata Rocky yang disambut tepuk tangan politisi PKS Mardani Ali Sera.
Demikian juga soal Ustadz Ba'asyir, yang sebetulnya sudah menjadi haknya kemudian ditunda supaya presiden yang mengucapkan itu.
"Apa di belakang itu ? Setelah semua alasan kita sisir, maka yang tinggal adalah motif politik," tegasnya.
"Yaitu menambal elektabilitas. Ini duduk perkaranya dan di dalam pikiran publik, sinopsis itu yang tertangkap," paparnya.
"Mau dibantah dengan cara apapun, publik menganggap bahwa presiden menunggangi suara Islam karena statistik menentukan pemilu tergantung suara Islam," lanjut Rocky Gerung.
Rocky mengatakan, kita tidak perlu menganalisis sesuatu yang kasat mata sebetulnya, yaitu jumlah suara untuk memperoleh kekuasaan berkurang karena cara memasaknya keliru.
"Jadi seolah-olah presiden itu mau bilang begini, Ma’ruf Amin kan tadinya merupakan premi untuk asuransi politik Islam. Dan karena kurang cukup, setelah beberapa kali terlihat tidak cukup, maka dicari asuransi lain yaitu ustadz Baasyir," paparnya.
"Jadi kayak orang rakus lagi sakit mau pakai dua asuransi itu. Ma’ruf amin tak cukup didatangkan Baasyir tapi salah konsep sehingga kacau lagi hari ini," lanjutnya.
Jadi tak perlu diputar-putar sehingga orang bisa melihat secara telanjang apa sebetulnya dibalik motif itu.
Menurut Rocky, soal hukum sudah dipersoalkan macam-macam.
"Jika pemerintah tubuh manusia, alam memberi fasilitas sel yang rusak untuk bunuh diri. Namanya apoptosis. Jadi kalau ada unsur sel dalam tubuh kita terindikasi akan merusak sistim, maka sel itu dengan sendirinya membunuh dirinya supaya tidak merusak sel  bersih di sekitarnya," paparnya.
"Kalau dia gagal bunuh diri, dia metastasis jadi cancer. Karena itu coba periksa di istana siapa yang seharusnya sel mati yang harus bunuh diri tapi mencari alasan untuk hidup ulang," lanjutnya.
Rocky menegaskan, upaya untuk mencari-cari pembenaran justru membuat kita semakin mengerti bahwa kekuasaan hari ini compang-camping dan menambal sulam itu justru menambah kecompang-campingan.
"Tambalannya pun tidak sempurna itu. Sampai sekarang orang nggak tahu problem kemanusiaan, kepastian hukum atau upaya untuk menambal elektabilistas," paparnya.
"Jadi makin dibantah, makin kita menduga bahwa ada sel yang sudah mati di dalam kekuasaan yang seharusnya bunuh diri tapi mau coba dikasi anti biotik tingkat tinggi gitu," ujarnya.

Komentar Anda

Berita Terkini