Tampilkan postingan dengan label PARIWISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PARIWISATA. Tampilkan semua postingan

4 Oktober 2022

Obyek Wisata Alam Pasir Gibug Menyuguhkan Pemandangan, Panorama Yang Indah Nan Memanjakan Mata

 




Policewatch Brebes,-Brebes tak pernah kehabisan destinasi wisata menarik untuk disambangi, salah satu yang terbaru yakni ada obyek wisata Pasir Gibug. 

Berlokasi, di kawasan pondok pesantren Mubarokul Ulum Desa Penanggapan Kecamatan Banjarharjo Brebes Jawa Tengah.yang mana seesuai geografis sebelah  selatan berbatasan dengan gunung Lio Salem dan sebelah barat berbatasan langsung dengan Desa/Kecamatan Cibingbin, Kabupaten Kuningan Jawa Barat.

Akses menuju ‘Bukit Pasir Gibug’ sangat mudah dilalui oleh kendaraan. Baik itu pengendara sepeda motor atau mobil, bahkan menggunakan mobil odong-odong pun bisa masuk ke kawasan bukit Pasir Gibug ini. 

Destinasi wisata alam Pasir Gibug ini menyuguhkan pemandangan dengan panorama yang indah nan memanjakan mata.

Obyek wisata yang di rintis oleh H.Sarno Eryanto SH.MH seorang pengusaha sukses, juga pembina yayasan Pondok Pesantren Mubarokul Ulum asal Desa Penanggapan Kecamatan Banjarharjo Brebes ini, awal mulanya bukan untuk wisata, tapi pengembangan kawasan pondok pesantren yang beliau keliola yaitu pondok pesantren Mubarokul Ulum.


Namun karena banyaknya pengunjung yang datang , sehingga dewan pembina yayasan dan pengelola berinisiatif mengembangkan dan memperluas obyek wisata ini, ada sekitar 25 hektar lahan yang disiapkan untuk lokasi obyek wisata Pasir Gibug, namun baru 10 hektar yang sudah dibangun. 

Hal tersebut di ungkapkan oleh Dzulfither Satya Bela Agama (43) pengurus obyek wisata sekaligus pengurus Pondok Pesantren Mubarokul Ulum kepada awak media ini di lokasi wisata Pasir Gibug Sabtu 30/9/22.

Gus Fither sapaan akrabnya ,beliau adalah Alumni Pondok Pesantren Gontor Jawa Timur.Pria kelahiran Lamongan ini , mengaku sudah menjadi warga Desa Penanggapan atau penduduk Kabupaten Brebes sejak 2016.

Lebih lanjut Gus Fither menambahkan,dengan adanya obyek wisata Pasir Gibug ini harapannya,bisa mengangkat perekonomian masyarakat Desa Penanggapan  Banjarharjo Brebes,sekaligus untuk menopang pondok pesantren Mubarokul Ulum yang di kelolanya.

Alhamdulillah sekarang ini sudah ada 50 orang karyawan tetap yang bekerja di obyek wisata Pasir Gibug dan 150 orang tukang yang bekerja untuk pengembangan lokasi wisata dan pembangunan masjid kubah mas dan keseluruhan merupakan warga asli desa penanggapan,"tuturnya.

Obyek wisata Pasir Gibug ini di kelilingi bukit-bukit dengan panorama yang indah dan menyejukkan.Banyak spot foto yang kami sediakan dan bisa  kalian coba ketika menyambangi obyek wisata Pasir Gibug ini. 


Obyek wisata yang letaknya 50,08 Km dari kota Kabupaten Brebes ini memberikan nuansa pemandangan perbukitan dengan panorama yang indah.

Jika langit cerah kita akan menikmati pemandangan bukit-bukit yang indah dan hamparan luas waduk malahayu bisa kita lihat secara bersamaan seperti surga yang tersembunyi di atas awan.Obyek wisata Pasir Gibug nyaris sempurna untuk sebuah obyek wisata. Pasalnya, wisata ini menyediakan fasilitas yang cukup lengkap.

Untuk wisatawan yang hanya mampir dan hendak bersantai, terdapat fasilitas umum seperti area parkir yang luas, kolam renang anak,MCK, mushola, listrik, gasebo dan aula yang telah disediakan disini.

Sementara Masjid dengan kubah mas yang rencananya akan menjadi ikon di Obyek wisata Pasir Gibug ini masih dalam tahap pembangunan dan pengerjaan nya sudah mencapai 60 persen, begitu juga dengan outbound yang kami siapkan masih dalam tahap pengerjaan,"imbuhnya.

Tidak hanya itu, kami juga menyediakan resto ,cafe dan kuliner lainya dengan harga yang sangat bersahabat.

Meski pada saat pandemi kami mengalami kendala karena hampir sembilan bulan obyek wisata ini tutup,namun kami tetap memberi perhatian kepada tenaga kerja,meskipun mereka dirumahkan sementara,yaitu dengan tetap memberikan hak mereka, meskipun hanya 75 persen dari honor yang biasa para karyawan Terima. 

Alhamdulillah meski baru dua tahun berjalan wisata  alam Pasir Gibug ini,sudah ramai pengunjung.Baik dalam kota maupun luar kota.Bahkan, tidak sekadar mengunjungi, wisatawan juga ada yang bermalam di puncak bukit yang cantik ini.

Bukit Pasir Gibug ini menawarkan vila yang cocok untuk keluarga anda dan hotel dengan harga relatif namun fasilitasnya lengkap.Namun perlu wisatawan ketahui jika hendak berkunjung ke obyek wisata pasir gibuk jangan hari Jum'at karena kami tutup terkecuali sudah ada agenda yang telah di sepakati, "imbuhnya.

Pada tanggal 22 Oktober nanti kawasan wisata Pasir Gibug akan menggelar acara triwulan Pokdarwis se-Jawa Tengah, yang insyaallah akan di hadiri Mentri Parawisata  Ekonomi kreatif Sandiaga Uno dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, " Pungkasnya. 

Ani (40) tahun salah satu pengunjung obyek wisata Pasir Gibug yang berasal dari Ciawi Kuningan Jawa Barat.saat di jumpai awak media ini mengatakan, dirinya sudah yang ke dua kalinya berkunjung ke obyek wisata Pasir Gibug ini, pertama saya ke sini bersama keluarga dan anak-anak sekarang datang bersama dengan 50 orang yang tergabung dalam komunitas agen BRI Link se Kabupaten Kuningan,"tuturnya.

Dipilihnya Obyek wisata Pasir Gibug ini, selain karena udaranya yang sejuk dan pemandangannya yang indah, juga tersedianya arena permainan anak-anak yang memadai. 

Pewarta:Haryoto

Biro Brebes

4 Mei 2020

Sejarah dan Kisah Ki Ageng Selo - Sang Penangkap petir



Oleh : M Rodhi irfanto
Red, POLICEWATCH,- Masyarakat jawa tengah khususnya siapa yang tidak mengenal Kyai Ageng Selo atau Ki Ageng Ngabdurahman adalah tokoh spiritual sekaligus leluhur raja-raja Kesultanan Mataram. Ia adalah guru Jaka Tingkir atau Sultan Adiwijaya pendiri Kesultanan Pajang, dan beliau adalah kakek dari Panembahan Senapati pendiri Kesultanan Mataram. Kisah hidupnya pada umumnya bersifat legenda, menurut naskah-naskah babad.

Silsilah
Nama asli Ki Ageng Ngabdurahman Selo menurut sebagian masyarakat adalah Bagus Sogom. Menurut naskah-naskah babad ia dipercaya sebagai keturunan langsung Brawijaya raja terakhir Majapahit.

Dikisahkan, Brawijaya memiliki anak bernama Bondan Kejawan, yang tidak diakuinya. Bondan Kejawan berputra Ki Getas Pandawa. Kemudian Ki Getas Pandawa berputra Ki Ageng Sela. 

Ki Ageng Sela memiliki beberapa orang putri dan seorang putra bergelar Ki Ageng Ngenis. Ki Ageng Ngenis berputra Ki Ageng Pemanahan, penguasa pertama Mataram.

Ki Ageng Sela Sebagai Perintis Kesultanan Mataram
Kerajaan Mataram Islam dirintis oleh tokoh-tokoh keturunan Raden Bondan Kejawan putra Bhre Kertabhumi. Tokoh utama Perintis Kesultanan Mataram adalah Ki Ageng Pamanahan, Ki Juru Martani dan Ki Panjawi mereka bertiga dikenal dengan "Tiga Serangkai Mataram" atau istilah lainnya adalah "Three Musketeers from Mataram". 

Disamping itu banyak perintis lainnya yang dianggap berjasa besar terhadap terbentuknya Kesultanan Mataram seperti : Bondan Kejawan, Ki Ageng Wonosobo, Ki Ageng Getas Pandawa, Nyai Ageng Ngerang dan Ki Ageng Ngerang, Ki Ageng Made Pandan, Ki Ageng Saba, Ki Ageng Pakringan, Ki Ageng Sela, Ki Ageng Enis dan tokoh lainnya dari keturunanan masing-masing. 

Mereka berperan sebagai leluhur Raja-raja Mataram yang mewarisi nama besar keluarga keturunan Brawijaya majapahit yang keturunannya menduduki tempat terhormat dimata masyarakat dengan menyandang nama Ki, Ki Gede, Ki Ageng' Nyai Gede, Nyai Ageng yang memiliki arti : tokoh besar keagamaan dan pemerintahan yang dihormati yang memiliki kelebihan, kemampuan dan sifat-sifat kepemimpinan masyarakat.

Ada beberapa fakta yang menguatkan mereka dianggap sebagai perintis Kesultanan Mataram yaitu :
Fakta 1 : Tokoh-tokoh perintis tersebut adalah keturunan ke 1 sampai dengan ke 6 raja Majapahit terakhir Bhre Kertabhumi yang bergelar Brawijaya V, yang sudah dapat dipastikan masih memiliki pengaruh baik dan kuat terhadap Kerajaan yang memerintah maupun terhadap masyarakat luas;

Fakta 2 : Tokoh-tokoh tersebut adalah keturunan Silang/Campuran dari Walisongo beserta leluhurnya yang terhubung langsung kepada Imam Husain bin Ali bin Abu Thalib, yang sudah dapat dipastikan mendapatkan bimbingan ilmu keagamaan (Islam) berikut ilmu pemerintahan ala khilafah / kekhalifahan islam jajirah Arab. Hal ini terbukti dalam aktivitas keseharian mereka juga sering berdakwah dari daerah satu ke daerah lainnya dengan mendirikan banyak Masjid, Surau dan Pesantren;

Fakta 3 : Para perintis tersebut pada dasarnya adalah "Misi" yang dipersiapkan oleh para Seikh dan para Wali (Wali-7 dan Wali-9) termasuk para Al-Maghrobi yang bertujuan "mengislamkan Tanah Jawa" secara sistematis dan berkelanjutan dengan cara menyatu dengan garis keturunan kerajaan.

Fakta 4 : Suksesi Kesultanan Demak ke Kesultanan Pajang kemudian menjadi Kesultanan Mataram pada dasarnya adalah kesinambungan dari "Misi" sesuai Fakta 3, seperti juga yang terjadi dengan Kerajaan Pajajaran, Kerajaan Sumedang Larang, Kerajaan Talaga Majalengka dan Kerajaan Sarosoan Banten, di luar adanya perebutan kekuasaan.

Dengan demikian dari keempat fafta di atas, jelas sudah bahwa terbentuknya Kesultanan Mataram pada khususnya dan Kesultanan Islam di Jawa pada umumnya merupakan strategi yang dipersiapkan oleh para Syeikh dan para Wali untuk mempercepat menyebarnya Islam di Tanah Jawa, sehingga salah satu persyaratan pembentukan Kesultanan Islam baik di Jawa maupun di daerah lainnya harus mendapatkan "Legitimasi/Pengesahan" dari Mekah dan/atau Turki, jalur untuk keperluan tersebut dimiliki oleh para "Ahlul Bait" seperti para Seikh dan para Wali.

Legenda
masjid ki ageng selo

Kisah hidup Ki Ageng Sela pada umumnya bersifat legenda menurut naskah-naskah babad, yang dipercaya sebagian masyarakat Jawa benar-benar terjadi.

Ada yang berbeda di pintu masuk Masjid Agung Demak. Di sana terdapat pintu yang dikenal dengan nama Lawang Bledheg (pintu petir) bertuliskan Candra Sengkala yang berbunyi "Nogo Mulat Saliro Wani", bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M.

Lawang Bledheg itu dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng Selo. Dalam kitab Babad Tanah Jawi disebutkan, Ki Ageng Selo adalah keturunan Raja Majapahit, Brawijaya V. Pernikahan Brawijaya V dengan Putri Wandan Kuning melahirkan Bondan Kejawen atau Lembu Peteng.

Lembu Peteng yang menikah dengan Dewi Nawangsih, putri Ki Ageng Tarub, menurunkan Ki Ageng Getas Pendawa. Dari Ki Ageng Getas Pendawa lahirlah Bogus Sogom alias Syekh Abdurrahman alias Ki Ageng Selo. Makam ki Ageng selo di desa Tawang, Purwodadi, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Sebagian masyarakat Jawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Selo, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.

“Masyarakat di Jawa, khususnya di pedesaan masih percaya pada mitos ini, bila terjadi petir berteriak sambil berkata, "Gandrik! Aku Putune Ki Ageng Selo" (“Gandrik, Aku cucu Ki Ageng Selo"). Mengatakan kalimat itu sambil  berdiri tegak dengan mengacungkan kepalan tangan ke langit,” ujar juru kunci makam Ki Ageng Selo, Priyo.
pohon gandrik

Cerita tentang penangkapan petir itu dituturkan dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi. Alkisah , suatu hari Ki Ageng Sela yang tinggal di desa Tawang , Purwodadi,  pergi ke sawah.

Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar-benar hujan lebat turun.

Halilintar atau bledheg menyambar persawahan, membuat warga desa yang di sawah pontang panting menyelamatkan diri. Tetapi Ki Ageng Sela tetap mencangkul sawah. Tiba-tiba dari langit muncul petir menyambar Ki Ageng. Petir itu konon berwujud seorang kakek-kakek. Ia segera menangkap petir itu.

“Wahai, Kilat. Berhentilah mengganggu penduduk sekitar,” kata Ki Ageng Selo kepada petir yang berada di tangannya.

“Baiklah. Aku tidak akan mengganggu penduduk lagi, juga beserta anak-cucumu,” jawab petir.

Oleh Ki Ageng Selo petir itu kemudian diikat di pohon Gandrik. Lega hati penduduk desa,  mereka tidak takut lagi disambar petir jika ke sawah.  Penduduk desa menyambut Ki Ageng Selo penuh rasa haru dan menyalami tangannya dengan mencium tangannya.

Ia tetap meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah hari sore, selesai mencangkul dia pulang sambil membawa petir tadi. Keesokan harinya dia ke Demak,  “ bledheg “dihaturkan kepada Sultan Trenggana di Demak.


Oleh Sultan Trenggono, “bledheg“ ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun-alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “bledheg“ itu.

Ketika itu datanglah seorang nenek-nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg“ dan diminumnya.

Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “bledheg” tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “bledheg” hancur berantakan.

Untuk mengenang kejadian itu, dibuat gambar kilat pada kayu berbentuk ukiran sebesar pintu masjid. Lantas mereka menyerahkannya kepada Ki Ageng Selo. Dengan senang hati Ki Ageng Selo menerimanya dan dipasang di pintu depan masjid Demak. Pintu itu masih bisa dilihat hingga sekarang.


Kisah yang menjadi legenda itu masih menjadi tanda tanya sampai sekarang. Kisah itu hanya sekedar dongeng atau sebuah cerita yang mempunyai makna yang tersirat.
Diketahui ternyata petir bisa meninggalkan jejak di tanah, mungkin dalam kisah itu tangkapan Ki Ageng Sela adalah jejak petir yang berupa batu petir (fulgurites) yang berbentuk seperti akar-akar atau tanaman yang tak beraturan. Maka, dalam cerita Ki Ageng Sela, dikisahkan bahwa petir bisa diikat

Ki Ageng Sela disebutkan pernah mendaftar sebagai perwira di Kesultanan Demak. Ia berhasil membunuh seekor banteng sebagai persyaratan seleksi, namun ngeri melihat darah si banteng. Akibatnya, Sultan menolaknya masuk ketentaraan Demak. Ki Ageng Sela kemudian menyepi di desa Sela sebagai petani sekaligus guru spiritual. Ia pernah menjadi guru Jaka Tingkir, pendiri Kesultanan Pajang. Ia kemudian mempersaudarakan Jaka Tingkir dengan cucu-cucunya, yaitu Ki Juru Martani, Ki Ageng Pemanahan, dan Ki Panjawi.

Ki Ageng Sela juga pernah dikisahkan menangkap petir ketika sedang bertani. Petir itu kemudian berubah menjadi seorang kakek tua yang dipersembahkan sebagai tawanan pada Kesultanan Demak. Namun, kakek tua itu kemudian berhasil kabur dari penjara. Untuk mengenang kesaktian Ki Ageng Sela, pintu masuk Masjid Agung Demak kemudian disebut Lawang Bledheg (pintu petir), dengan dihiasi ukiran berupa ornamen tanaman berkepala binatang bergigi runcing, sebagai simbol petir yang pernah ditangkap Ki Ageng. Bahkan, sebagian masyarakat Jawa sampai saat ini apabila dikejutkan bunyi petir akan segera mengatakan bahwa dirinya adalah cucu Ki Ageng Sela, dengan harapan petir tidak akan menyambarnya.

Ki Ageng Sela juga dikaitkan dengan asal usul pusaka Mataram yang bernama Bende Kyai Bicak. Dikisahkan pada suatu hari Ki Ageng Sela menggelar pertunjukan wayang dengan dalang bernama Ki Bicak. Ki Ageng jatuh hati pada istri dalang yang kebetulan ikut membantu suaminya. Maka, Ki Ageng pun membunuh Ki Bicak untuk merebut Nyi Bicak. Akan tetapi, perhatian Ki Ageng kemudian beralih pada bende milik Ki Bicak. Ia tidak jadi menikahi Nyi Bicak dan memilih mengambil bende tersebut. Bende Ki Bicak kemudian menjadi warisan turun temurun keluarga Mataram. Roh Ki Bicak dipercaya menyatu dalam bende tersebut. Apabila hendak maju perang, pasukan Mataram biasanya lebih dulu menabuh bende Ki Bicak. Bila berbunyi nyaring pertanda pihak Mataram akan menang. Tapi bila tidak berbunyi pertanda musuh yang akan menang.

Selain pusaka, Ki Ageng Sela meninggalkan warisan berupa ajaran moral yang dianut keturunannya di Mataram. Ajaran tersebut berisi larangan-larangan yang harus dipatuhi apabila ingin mendapatkan keselamatan, yang kemudian ditulis para pujangga dalam bentuk syair macapat berjudul Pepali Ki Ageng Sela.

Makam Ki Ageng Selo teletak di Desa Selo, Kecamatan Tawangharjo 10 km sebelah timur kota Purwodadi, Kabupaten Grobogan sebagai obyek wisata spiritual, makam Ki Ageng Selo ini sangat ramai dikunjungi oleh para peziarah pada malam jum'at, dengan tujuan untuk mencari berkah agar permohonannya dikabulkan oleh Tuhan YME. Ki Ageng Selo sendiri menurut cerita yang berkembang di masyarakat sekitar khususnya atau masyarakat jawa umumnya, diakui memiliki kesaktian yang sangat luar biasa sampai-sampai dengan kesaktiannya ia dapat menangkap petir.
Ki Ageng Selo dipercaya oleh masyarakat jawa sebagai cikal bakal yang menurunkan raja-raja di tanah Jawa. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Selo sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta. Sebelum Gerebeg Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Selo untuk mengambil api abadi yang selalu menyala di dalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta. Api dari sela dianggap sebagai api keramat. 

Legenda dari Makam Ki Ageng Selo : 
Cerita Ki Ageng Sela merupakan cerita legendaris. Tokoh ini dianggap sebagai penurun raja-raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta sampai sekarang. Ki Ageng Sela atau Kyai Ageng Ngabdurahman Sela, dimana sekarang makamnya terdapat di Desa Sela, Kecamatan Tawangharjo, Kabupaten Grobogan, adalah tokoh legendaris yang cukup dikenal oleh masyarakat Daerah Grobogan, namun belum banyak diketahui tentang sejarahnya yang sebenarnya. Dalam cerita tersebut dia lebih dikenal sebagai tokoh sakti yang mampu menangkap halilintar (bledheg).

Menurut cerita dalam babad tanah Jawi (Meinama, 1905; Al - thoff, 1941), Ki Ageng Sela adalah keturunan Majapahit. Raja Majapahit : Prabu Brawijaya terakhir beristri putri Wandan kuning. Dari putri ini lahir seorang anak laki-laki yang dinamakan Bondan Kejawan. Karena menurut ramalan ahli nujum anak ini akan membunuh ayahnya, maka oleh raja, Bondan Kejawan dititipkan kepada juru sabin raja : Ki Buyut Masharar setelah dewasa oleh raja diberikan kepada Ki Ageng Tarub untuk berguru agama Islam dan ilmu kesaktian.
makam KI Ageng Tarub

Oleh Ki Ageng Tarub, namanya diubah menjadi Lembu Peteng. Dia dikawinkan dengan putri Ki Ageng Tarub yang bernama Dewi Nawangsih, dari ibu Bidadari Dewi Nawang Wulan. Ki Ageng Tarub atau Kidang Telangkas tidak lama meninggal dunia, dan Lembu Peteng menggantikan kedudukan mertuanya, dengan nama Ki Ageng Tarub II. 

Dari perkawinan antara Lembu Peteng dengan Nawangsih melahirkan anak Ki Getas Pendowo dan seorang putri yang kawin dengan Ki Ageng Ngerang. Ki Ageng Getas Pandowo berputra tujuh orang yaitu : Ki Ageng Sela, Nyai Ageng Pakis, Nyai Ageng Purna, Nyai Ageng Kare, Nyai Ageng Wanglu, Nyai Ageng Bokong, Nyai Ageng Adibaya.

Kesukaan Ki Ageng Selo adalah bertapa dihutan, gua, dan gunung sambil bertani menggarap sawah. Dia tidak mementingkan harta dunia. Hasil sawahnya dibagi - bagikan kepada tetangganya yang membutuhkan agar hidup berkecukupan. Bahkan akhirnya Ki Ageng Sela mendirikan perguruan Islam. Muridnya banyak, datang dari berbagai penjuru daerah. Salah satu muridnya adalah Mas Karebet calon Sultan Pajang Hadiwijaya. Dalam tapanya itu Ki Ageng selalu memohon kepada Tuhan agar dia dapat menurunkan raja-raja besar yang menguasai seluruh Jawa.
makam Pangeran Bondan kejawan atau Lembu Peteng

Kala semanten Ki Ageng sampun pitung dinten pitung dalu wonten gubug pagagan saler wetaning Tarub, ing wana Renceh. Ing wanci dalu Ki Ageng sare wonten ing ngriku, Ki Jaka Tingkir (Mas Karebet) tilem wonten ing dagan. Ki Ageng Sela dhateng wana nyangking kudhi, badhe babad. Kathinggal salebeting supeno Ki Jaka Tingkir sampun wonten ing Wana, Sastra sakhatahing kekajengan sampun sami rebah, kaseredan dhateng Ki Jaka Tingkir. (Altholif : 35 - 36).

Impian tersebut mengandung makna bahwa usaha Ki Ageng Sela untuk dapat menurunkan raja-raja besar sudah di dahului oleh Jaka Tingkir atau Mas Karebet, Sultan Pajang pertama. Ki Ageng kecewa, namun akhirnya hatinya berserah kepada kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Hanya kemudian kepada Jaka tingkir, Ki Ageng sela berkata : Nanging thole, ing buri turunku kena nyambungi ing wahyumu (Dirdjosubroto, 131; Altholif: 36 ).

Ki Ageng Sela menangkap “ bledheg “ cerita tutur dalam babad :
Ketika Sultan Demak : Trenggana masih hidup pada suatu hari Ki Ageng Sela pergi ke sawah. Hari itu sangat mendung, pertanda hari akan hujan. Tidak lama memang benar-benar hujan lebat turun. Halilintar menyambar. Tetapi Ki Ageng Sela tetap enak-enak menyangkul, baru sebentar dia mencangkul, datanglah “bledheg“ itu menyambar Ki Ageng, berwujud seorang kakek-kakek. Kakek itu cepat-cepat ditangkapnya, kemudian diikat dipohon gandri, dan dia meneruskan mencangkul sawahnya. Setelah cukup, dia pulang dan “ bledheg “ itu dibawa pulang dan dihaturkan kepada Sultan demak.

Oleh Sultan “bledheg“ itu ditaruh didalam jeruji besi yang kuat dan ditaruh ditengah alun-alun. Banyak orang yang berdatangan untuk melihat ujud “bledheg“ itu. Ketika itu datanglah seorang nenek-nenek dengan membawa air kendi. Air itu diberikan kepada kakek “ bledheg“ dan diminumnya. Setelah minum terdengarlah menggelegar memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu lenyaplah kakek dan nenek “bledheg” tersebut, sedang jeruji besi tempat mengurung kakek “bledheg” hancur berantakan.

Kemudian suatu ketika Ki Ageng nanggap wayang kulit dengan dhalang Ki Bicak. Istri Ki Bicak sangat cantik. Ki Ageng jatuh cinta pada Nyai Bicak. Maka untuk dapat memperistri Nyai Bicak, Kyai Bicak dibunuhnya. Wayang Bende dan Nyai Bicak diambilnya, “Bende“ tersebut kemudian diberi nama Kyai Bicak, yang kemudian menjadi pusaka Kerajaan Mataram. 

Bila “Bende“ tersebut dipukul dan suaranya menggema, bertanda perangnya akan menang tetapi kalau dipukul tidak berbunyi pertanda perangnya akan kalah.

Peristiwa lain lagi : Pada suatu hari Ki Ageng Sela sedang menggendong anaknya di tengah tanaman waluh dihalaman rumahnya. Datanglah orang mengamuk kepadanya. Orang itu dapat dibunuhnya, tetapi dia “kesrimpet“ batang waluh dan jatuh telentang, sehingga kainnya lepas dan dia menjadi telanjang. Oleh peristiwa tersebut maka Ki Ageng Sela menjatuhkan umpatan, bahwa anak turunnya dilarang menanam waluh di halaman rumah memakai kain cinde .

… Saha lajeng dhawahaken prapasa, benjeng ing saturun - turunipun sampun nganthos wonten ingkang nyamping cindhe serta nanem waluh serta dhahar wohipun. ( Dirdjosubroto : 1928 : 152 – 153 ). 

Dalam hidup berkeluarga Ki Ageng Sela mempunyai putra tujuh orang yaitu : Nyai Ageng Lurung Tengah, Nyai Ageng Saba (Wanasaba), Nyai Ageng Basri, Nyai Ageng Jati, Nyai Ageng Patanen, Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama Kyai Ageng Enis. Kyai Ageng Enis berputra Kyai Ageng Pamanahan yang kawin dengan putri sulung Kyai Ageng Saba, dan melahirkan Mas Ngabehi Loring Pasar atau Sutawijaya, pendiri Kerajaan Mataram. Adik Nyai Ageng Pamanahan bernama Ki Juru Martani. Ki Ageng Enis juga mengambil anak angkat bernama Ki Panjawi. Mereka bertiga dipersaudarakan dan bersama - sama berguru kepada Sunan Kalijaga bersama dengan Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Atas kehendak Sultan Pajang, Ki Ageng Enis diminta bertempat tinggal didusun lawiyan, maka kemudian terkenal dengan sebutan Ki Ageng Lawiyan. Ketika dia meninggal juga dimakamkan di desa Lawiyan. (M. Atmodarminto, 1955: 1222).

Dari cerita diatas bahwa Ki Ageng Sela adalah nenek moyang raja-raja Mataram Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan pemujaan kepada makam Ki Ageng Sela sampai sekarang masih ditradisikan oleh raja-raja Surakarta dan Yogyakarta tersebut. Sebelum Garabeo Mulud, utusan dari Surakarta datang ke makam Ki Ageng Sela untuk mengambil api abadi yang selalu menyala didalam makam tersebut. Begitu pula tradisi yang dilakukan oleh raja-raja Yogyakarta Api dari Sela dianggap sebagai keramat.

Bahkan dikatakan bahwa dahulu pengambilan api dilakukan dengan memakai arak-arakan, agar setiap pangeran juga dapat mengambil api itu dan dinyalakan ditempat pemujaan di rumah masing-masing. Menurut Shrieke (II : 53), api sela itu sesungguhnya mencerminkan “asas kekuasaan bersinar”. Bahkan data-data dari sumber babad mengatakan bahkan kekuasaan sinar itu merupakan lambang kekuasaan raja-raja didunia. Bayi Ken Arok bersinar, pusat Ken Dedes bersinar; perpindahan kekuasaan dari Majapahit ke Demak diwujudkan karena adanya perpindahan sinar; adanya wahyu kraton juga diwujudkan dalam bentuk sinar cemerlang.

Dari pandangan tersebut, api sela mungkin untuk bukti penguat bahwa di desa Sela terdapat pusat Kerajaan Medang Kamulan yang tetap misterius itu. Di Daerah itu Reffles masih menemukan sisa-sisa bekas kraton tua (Reffles, 1817 : 5). Peninggalan itu terdapat di daerah distrik Wirasaba yang berupa bangunan Sitihinggil. Peninggalan lain terdapat di daerah Purwodadi.

Sebutan “ Sela “ mungkin berkaitan dengan adanya “ bukit berapi yang berlumpur, sumber-sumber garam dan api abadi yang keluar dari dalam bumi yang banyak terdapat di daerah Grobogan tersebut.
Ketika daerah kerajaan dalam keadaan perang Diponegoro, Sunan dan Sultan mengadakan perjanjian tanggal 27 September 1830 yang menetapkan bahwa makam-makam keramat di desa Sela daerah Sukawati, akan tetap menjadi milik kedua raja itu. Untuk pemeliharaan makam tersebut akan ditunjuk dua belas jung tanah kepada Sultan Yogyakarta di sekitar makam tersebut untuk pemeliharaannya. (Graaf, 3,1985 : II). 

Daerah enclave sela dihapuskan pada 14 Januari 1902. Tetapi makam-makam berikut masjid dan rumah juru kunci yang dipelihara atas biaya rata-rata tidak termasuk pembelian oleh Pemerintah.

Makam Ki Ageng Selo, Purwodadi.

Seloin pusaka, Ki Ageng Selo meninggalkan warisan berupa ajaran moral yang dianut keturunannya di Mataram. Ajaran tersebut berisi larangan-larangan yang harus dipatuhi apabila ingin mendapatkan keSelomatan, yang kemudian ditulis para pujangga dalam bentuk syair macapat berjudul Pepali Ki Ageng Selo.

Makam Ki Ageng Selo terletak di desa Selo Tawang Harjo, Kab. Grobogan, Prov. Jawa Tengah. Tak Jauh dari makam beliau, terdapat pula makam kakek buyutnya yaitu Ki Ageng Tarub dan makam ayahandanya yaitu Ki Ageng Getas Pendawa.

sumber : sejarah, cerita, kitab babat 


26 Maret 2020

Pemdes Sawarna tutup sementara kawasan wisata cegah virus corona




Banten,POLICEWATCH,-Dalam rangka pencegahan penyebaran virus covid 19 atau Corona pemerintahan desa Sawarna Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak propinsi Banten lakukan musyawarah dengan semua unsur lapisan masyarakat diantaranya RT.dan RW lembaga desa pokdarwis.balawista tokoh masyarakat.para pelaku wisata baik homstay ojek warung dan hadir MUI desa Sawarna juga perwakilan dari muspika kecamatan Bayah yang di wakili dari Polsek dan Koramil Bayah.

Dalam musyawarah btersebut kepala desa Sawarna Iwa sungkawa s.pd.mengatakan Musyawarah ini dilakukan menindak lanjuti intruksi bupati Lebak terkait dindakan desa untuk mencegah meluasnya penyebaran virus covid 19/Corona .kenapa untuk wisata Sawarna untuk sementara kita tutup dulu pengunjung dari luar kota /daerah untuk masuk ke wisata Sawarna sebagai antisipasi penyebaran virus Corona di wilayah sawarna. banyaknya pengunjung dari luar kota baik dari Jabodetabek.dan dari derah lainya kesawarna untuk berkunjung.kami dari pemerintahan berupaya mengantisipasi penyebaran virus korona di daerah  wisata.pada dasarnya kita salaing menjaga jangan sampai penyakit tersebut masuk ke wilayah Sawarna.dan muali Tanggal 25 Maret 2020. Kawasan wisata di Sawarna untuk sementara di tutup untuk pengunjung dari luar daerah apalagi daerah yang sudah masuk Jona merah penyebaran virus koronanya, dengan waktu yang tidak di tentukan melihat kondisi dan situasi dan arahan pemerintah.


Lanjut iwa. Saya juga berharap pada masyarakat dalam melakukan kegiatan sarana ke agamaan seperti isro mi'raj di kampung kampung yang belum melakukannya untuk tetap menjaga jarak dan melihat kodisi ketika masih ada pelaksanaan Isro mi'raj yang akan di laksanakan.saya juga berharap pada masyarakat desa Sawarna agar selalu menjaga kebersihan dan juga menjaga jarak berinteraksi dengan pendatang dan juga selalu rutin melakukan cucitangan sehabis beraktivitas di luar rumah pungkasnya.

Sementara Nrigadir Eka Trisna yang mewakili Polsek Bayah dan muspika menyampaikan maklumat  Kapolri untuk menja kepatuhan terhadap kebijakan pemerintah dalam penanganan penyebaran virus korona sekaligus  memantau dan melakukan pencegahan dimana Kapolri mengintruksikan agar masyarakat tidak boleh melakukan pesta resepsi pernikahan atau hajatan juga melakukan kumpul kumpul atau melakukan kegiatan yang mendatangkan banyak orang apalagi para peserta datang dari luar daerah mari kita sama sama putus mata rantai penyebaran virus korona dengan melakukan aktivitas di rumah untuk sementara   pungkas Eka

Ar. Sudrajat tokoh masyarakat dan ketua BPD  mengapresiasi sikap pemerintahan desa yang melakukan penutupan kawasan wisata Sawarna untuk tidak di kunjungi saat ini dari pengunjung dari wilayah luar. Sebagai bentuk antisipasi pencegahan penyebaran virus korona saya juga berharap untuk warga masyarakat agar mendengarkan intruksi dari pemerintah untuk sementara berdiam dulu di rumah selama 14 hari jangan sampai keluyuran ke luar daerah apalagi ke Jona merah . Pungkasnya.

Sementara Eman Sulaeman MUI Desa Sawarna, penutupan kawasan wisata Di Sawaran sangat di apresiasi dan kami harap masyarakat bisa mengikutinya tapi untuk sarana keagamaan seprti jumatan dan pengajian jangan sampai masyarakat salah persepsi menyimpulkan patwa dari MUI pusat karena patwa MUI tersebut di berlakukan untuk kawasan Jona merah yang penyebaran virus korona nya sudah sangat aktip.tapi untuk wilayah atau kampung yang berada di desa yang masih aman agar tetap melakukan kegiatan aktipitas keagamaan seperti biasa dengan tetap menjaga kesehatan dan jarak dalam melakukan kegiatan agamaan. Mari kita jaga kesehatan  lingkungan dan keluarga untuk tetap jaga kebersihan.pungkas Eman

Pewarta :TIM MPW

28 Januari 2020

SETELAH DI BUKA NYA AKSES JALAN KINI DINAS PARIWISATA KABUPATEN TASIKMALAYA MENINJAU CURUG ANGGREKd

Dok :Policewatch


Tasikmalaya, Policewatch.News,-   Baru beberapa waktu yang lalu di laksanakan pembukaan akses jalan menuju curug anggrek yang terletak di kampung cimuncang rt 009 rw 10 berada di salah satu kepunduhan di desa karangnunggal, kecamatan Karangnunggal, Kabupaten Tasikmalaya, tempat tersebut sangat menakjubkan menyimpan berjuta pesona keindahan alamnya, belakangan ini sempat viral di jejaring sosial dan berbagai media online.29 Januari 2020.


Dicelah kegiatan peninjauan Kasi Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata Kabupaten Tasikmalaya Budi Prayoga siang tadi menyampaikan kepada awak media Policewatch.News, jujur potensi alam nya sangat bagus, kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah kesiapan masyarakatnya juga bagus, terbukti dari pembukaan jalan. Apalagi saya dengar langsung dari kepala desa nya bahwa ada masyarakat yang menghibahkan sebagian tanahnya untuk pembangunan jalan, lalu terlihat warung-warung jajanan sudah ada, sehingga pengunjung tidak perlu jauh-jauh membeli kebutuhannya saat di lokasi wisata alam curug anggrek ini, hanya saja memang untuk fasilitas lainnya seperti wc umum dan sarana ibadah belum ada. Mudah-mudahan ketika ini sudah menjadi desa wisata dapat mendongkrak peningkatan ekonomi masyarakat juga secara otomatis, paparnya.

Pada kesempatan tersebut kepala desa karangnunggal Herliman Idris A.md mengemukakan keseriusannya ingin segera merealisasikan beberapa kekurangan fasilitas yang belum tersedia, pihak pemerintah desa akan terus berkoordinasi dengan berbagai dinas dan instansi terkait termasuk kepala daerah kabupaten Tasikmalaya menyangkut penetapan surat keputusan desa wisata, Pungkasnya.

Pewarta : Abucek Ka Biro Tasikmalaya.

25 Januari 2020

KADES KARANGNUNGGAL HERLIMAN BUKA AKSES CURUG ANGGREK YANG MENAKJUBKAN

Herliman Idris A.md


Tasikmalaya, Policewatch.News,Tidak di sangka potensi alam di wilayah karangnunggal yang penuh pesona dan sangat menakjubkan, terasa memanjakan mata ketika sudah berada di area seakan mengisyaratkan enggan beranjak meninggalkannya.


Terletak di kampung cimuncang Rt 009, Rw 10, sebuah kepunduhan yang berada di desa karangnunggal, kecamatan Karangnunggal, kabupaten Tasikmalaya. Wisata alam curug anggrek yang di gadang-gadang sebagai destinasi desa karangnunggal.


 Dimana objek wisata alam belum lama ini di buka aksesnya oleh pemerintah desa, kendati pun baru tempat tersebut sudah ramai di kunjungi wisatawan. Meskipun untuk mencapai keindahan air terjun yang sangat menakjubkan setinggi 16 meter itu para wisatawan harus rela melalui sebagian jalan tanah dan bebatuan kurang lebih selama 1 jam dari pusat kecamatan karangnunggal,

 Tetapi hal tersebut tidak mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung. Pengunjung tidak hanya dari daerah saja, wisatawan asing pun mulai melirik dan berdatangan. Mayoritas pengunjung sementara ini adalah kaum muda-mudi dan pencinta alam. Tidak menutup kemungkinan di masa yang akan datang area curug anggrek tersebut menjadi destinasi wisata alam yang mampu mendongkrak pendapat asli desa. 

Saat di temui oleh awak media Policewatch.News di ruang kerjanya Herliman Idris A.md menyampaikan, saat ini kami sedang membuka akses ke curug anggrek dengan cara menggandeng investor lokal, kemudian pengembangan nya di rencanakan menggunakan anggaran dana desa tahap I tahun 2020 ini.25 Januari 2020

 Selanjutnya kami juga akan melakukan kajian-kajian dan survey ulang secara khusus terutama menyangkut akses jalan dan fasilitas yang lainnya, agar para wisatawan merasa aman dan nyaman. Mohon doa serta dukungannya supaya rencana ini terlaksana sesuai harapan bersama, Pungkasnya.

Pewarta : Abucek Ka Biro Tasikmalaya.

28 Desember 2019

Wisata Darajat Pass dan Puncak Darajat Masih Jadi Primadona



Garut.POLICEWATCH.NEWS.
Dok : Policewatch
KAWASAN wisata pemandian air panas Darajat, Di Kp.Bedeng Desa Karya Mekar Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut masih menjadi primadona pada musim libur Tahun Baru 2019. Pengunjung membludak di sejumlah tempat pemandian seperti Puncak Darajat dan Darajat Pass.

"Momen liburan Tahun Baru pemandian air panas yang ada di Darajat tetap menjadi pilihan keluarga," ujar salah satu pengunjung, 0pik Nugraha,asal Tasikmalaya Sabtu (28/12/2019) saat di temui Media POLICE WATCH.NEWS di lokasi tempat wisata.

Menurut Opik, kawasan wisata yang ada di Darajat, selain tempatnya nyaman, pengunjung bisa menikmati panorama alamnya secara langsung dari ketinggian puncak.

"Kita bisa langsung melihat kota Garut, pemandangannya sangat indah," ujarnya.

Sementara itu, Novi pengunjung asal Bandung mengatakan, wisata di libur panjang tahun baru bersama keluarga lebih memilih ke pemandian Darajat Pass. Tempat ini cukup memiliki wahana permainan yang lengkap.

"Kalau saya memilih Darajat Pass, banyak wahana permainannya selain kolam renangnya," ucapnya.(Yd Dwi Angoro Biro Tasikmalaya)

17 Oktober 2019

Pantai Barat dan Timur Ditata, Pemkab Pangandaran Optimis PAD Naik Tajam



Dok : MPW

PANGANDARAN,POLICEWATCH,-- Penataan kawasan wisata Pantai Barat dan Pantai Timur Pangandaran, Jawa Barat akan jadi potensi besar sehingga dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Pangandaran Undang Sobharudin mengatakan, PAD dari sektor wisata salah satunya dipengaruhi angka kunjungan.

“Jika kunjungan wisata banyak PAD bakal meningkat begitu pun sebaliknya jika kunjungan sedikit maka PAD akan menurun,” kata Undang kepada Police Watch, Rabu (16/10/2019)

Undang menambahkan, dengan adanya penataan kawasan objek wisata Pantai Barat dan Pantai Timur Pangandaran, bakal jadi daya tarik wisatawan untuk berkunjung.

“Pengunjung wisata ke Pantai Pangandaran sejak tahun 2013 hingga tahun 2018 fluktuatif,” ujar Undang.
Undang menjelaskan, pada tahun 2013 pengunjung Pantai Pangandaran lebih dari 1.2 juta jiwa.

Terdiri dari wisatawan nusantara 1.209.200, sedangkan wisatawan mancanegara 4.059.

Dari kunjungan tersebut, kata Undang, Pemkab Pangandaran menerima retribusi PAD lebih dari Rp3 miliar.
Kemudian, kata Undang, pada tahun 2014 pengunjung Pantai Pangandaran sebanyak 952.095.
Terdiri dari, wisatawan nusantara 956.580, sedangkan wisatawan mancanegara 5.515.

Dari kunjungan tersebut, kata Undang, mendapat retribusi PAD lebih dari Rp2.3 miliar.
Lalu, pada tahun 2015, pengunjung Pantai Pangandaran lebih dari 1.8 juta jiwa. Terdiri dari wisatawan nusantara 1.832.025 sedangkan wisatawan mancanegara 6.621.

Dari kunjungan tersebut, Pemkab Pangandaran menerima retribusi PAD lebih dari Rp4.5 miliar.
Sedangkan pada tahun 2016, pengunjung Pantai Pangandaran mencapai 1.4 juta jiwa. Terdiri dari wisatawan nusantara 1.399.156, dan wisatawan mancanegara sebanyak 3.804 jiwa.

Dari kunjungan tersebut, mendapat retribusi PAD lebih dari Rp4 miliar.

Sementara pada tahun 2017, pengunjung Pantai Pangandaran lebih dari 2 juta jiwa terdiri dari wisatawan nusantara 2 juta jiwa, sedangkan wisatawan mancanegara sebanyak 3.094 jiwa.

Dari kunjungan tersebut, Pemkab Pangandaran menerima retribusi PAD lebih dari Rp10 miliar.
Untuk tahun 2018, pengunjung Pantai Pangandaran mencapai lebih dari 2.7 juta jiwa.

Terdiri dari wisatawan nusantara sebanyak 2.787.767 jiwa, sedangkan wisatawan mancanegara sebanyak 2.138 jiwa.

Dari kunjungan tersebut, Pemkab Pangandaran mendapat retribusi PAD lebih dari Rp13.9 miliar.
“Kami optimis, setelah penataan kawasan objek wisata Pantai Barat dan Pantai Timur Pangandaran ini, pengunjung bakal lebih banyak dan betah lama-lama, menikmati wisata yang ada di Pangandaran,” kata Undang.

Apalagi, kata Undang, ke depan bakal dibangun pedestrian tempat jalan pengunjung yang bakal mempermudah akses dari satu tempat ke tempat lain.

Undang menjelaskan, di lokasi penataan Pantai Barat dan Pantai Timur Pangandaran, ke depan akan dilengkapi sarana septic tank biofil.

“Septic tank biofil sangat ramah lingkungan. Hal itu akan menjamin kebersihan sanitasi,” jelas Undang.
Undang menambahkan, septic tank biofil, merupakan terobosan baru dari sebuah inovasi dan pengembangan septic tank konvensional.

“Hasil dari septic tank biofil bakal menghasilkan air yang jernih dan tidak mengeluarkan bau, sehingga cocok didirikan di lokasi penataan objek wisata Pantai Barat dan Pantai Timur Pangandaran,” terang Undang.
Hasil proses biofil telah memenuhi Standar Baku Mutu Air Limbah Domestik sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor 112/2003.

“Penataan wisata merupakan harapan yang sudah diwacanakan sejak lama, kami percaya pembangunan ini direspons positif oleh seluruh warga Pangandaran,” kata Undang,"(Yuda Dwi Angoro)

23 September 2019

TPID Kec.Culamega Tasikmalaya Adakan Botram bareng di Situ Denuh.


dok :MPW

POLICEWATCH,  TASIK SELATAN,- Untuk mempromosikan destinasi wisata yang ada di Kec.Culamega, Kabupaten Tasikmalaya.pada hari Sabtu (21/09) bertempat di lokasi Situ Denuh di adakan acara Botram Bareng. Acara tersebut di gagas dan di prakarsai oleh TPID Kec.Culamega

,"bekerjasama dengan Pemdes Cikuya. Ahmad Budiman selaku Ketua TPID Kec.Culamega mengatakan" Kepada POLICE WATCH, Kegiatan ini sengaja di adakan sebagai upaya untuk promosikan tempat wisata yang ada di wilayah Culamega Tasikmalaya sehingga di harapkan bisa di ketahui oleh masyarakat di Kec.Culamega khususnya dan umumnya masyarakat Tasik Selatan".

," Sementara itu Camat Culamega Tb.Aam Muharam SH.MSi yang turut hadir dalam acara tersebut sangat apresiasi serta bangga dengan kegiatan yang di gagas oleh TPID Kec.Culamega ini "Mudah mudahan dengan kegiatan botram bareng di Situ Denuh ini bisa menjadi ajang promosi wisata yang ada di wilayah Kec.Culamega, sehingga bisa mendongkrak ekonomi warga sekitar bilamana lokasi wisata Situ Denuh ini sudah di kenal dan di datangi pengunjung dari luar" pungkasnya. 

Tak lupa harapan dari pihak Pemdes Cikuya melalui Ma'mun Kades Cikuya, agar lokasi wisata Situ Denuh ini mendapat sentuhan dari Instansi terkait untuk  penataannya sehingga lebih menarik lagi pengunjung misalnya sarana infrastruktur dan jenis permainan seperti sarana outbond.pungkasnya,,(Yuda Dwi Anggoro Korwil Tasela)

22 September 2019

Pantai Wisata Cipatujah Potensi yang Perlu Di Percantik.

Pantai Cipatujah



POLICEWATCH Tasik Selatan,- Untuk meningkatkan daya tarik Wisatawan lokal maupun Wisatawan Asing, Pantai Cipatujah perlu sentuhan Artistik dan perhatian dari Pemerintah terkait.(Dinas Pariwisata, Dinas Lingkungan Hidup).Sabtu, 21/9/2019.

Pantai Cipatujah dilihat dari keindahannya bagaikan gadis desa tak berbusana, pasalnya potensinya cukup untuk dikembangkan dan dipercantik supaya lebih menarik minat para pengunjung, tidak halnya seperti keadaan saat ini.

Sampai saat ini Pantai tersebut hanya sebagai tempat alternatif saja, tidak menjadi tujuan utama para wisatawan.

Menurut salah Seorang pegawai honorer Dinas pariwisata, Anas namanya ,"berharap banyak Pantai Cipatujah ini mendapat  perhatian yang khusus dan konsisten dari Dinas terkait. Seperti halnya perhatian terhadap pantai lain di pantai selatan, katanya.

Jikalau pantai ini di urus, dipercantik atau diperindah Insya Alloh bakal banyak pengunjungnya, sehingga akan meningkatkan penghasilan/PAD, PADes. Pungkas Anas.

Dalam waktu yang sama disampaikan Kades Desa Cipatujah Yoyo Sunaryo yang juga purnawirawan TNI,"kami pun pihak pemerintah Desa sudah berulang kali mengusulkan bahwa pantai Cipatujah ini perlu perhatian khusus, dan konsisten. Tidak hanya seperti dulu ada program batu penahan ombak sampai saat ini tidak tuntas, malah rusak lagi. Sedangkan kalau tidak salah sudah menghabiskan milyaran Rupiah." Jelasnya.

"Berharap banyak dengan Camat baru Yayat Suryatna, pantai cipatuh itu jadi konsef skala prioritas pengembangan potensi wisata unggulan," ungkap Yoyo pungkasnya. (Yuda Dwi Anggoro Korwil Tasela).

7 Mei 2019

DESTINASI WISATA PANTAI SINDANGKERTA DIBURU PENGUNJUNG

wisata pantai Sindang kerta


Tasikmalaya, (Policewatch.News) -.Menjelang ramadhan destinasi wisata pantai Sindang kerta ramai dikunjungi wisatawan, pasalnya suasana pantai tersebut mulai dibenahi dan diperindah sehingga menyuguhkan nuansa keindahan yang khas dan memberi kenyamanan pengunjung.Minggu,(5/5/2019)

Di sisi lain ramainya pengunjung menjadi momen mengais rejeki bagi para pedagang di pesisir pantai tersebut.

Salah satu pedagang mengatakan"Alhamdulillah dagangan abdi laris manis tanjung kimpul" pasalnya para pengunjung menjelang awal Ramadhan, yg populer disebut munggahan meningkat setelah beberapa bulan sempat "tiiseun" katanya.
               

Selanjutnya kami temui Pengelola taman wisata, disela sela kesibukan melayani retribusi karcis, beliau mengatakan,"Pengunjung pantai Sindang kerta menjelang ramadhan tahun ini kembali meningkat, karena pantai Sindangkerta beberapa bulan ke belakang sempat sepi akibat gelombang pasang yg melanda pantai laut kidul", pungkasnya (Yat's biro Tasikmalaya).

25 Maret 2019

Peringatan Hari Air Sedunia di Sungai Cikuray Tenjowaringin Tasikmalaya


Reporter  :  Abucek
Peringatan Hari Air Sedunia yang dilaksanakan oleh Gerakan Umat Inklusif (Gumati) Foundation bersama warga masyarakat Desa Tenjowaringin bertempat di Sungai Cikuray, Dusun Wanasigra, Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (22/03/2019) 

Tasikmalaya (policewatch.news)  Peringatan Hari Air Sedunia yang dilaksanakan oleh Gerakan Umat Inklusif (Gumati) Foundation bersama warga masyarakat Desa Tenjowaringin bertempat di Sungai Cikuray, Dusun Wanasigra, Desa Tenjowaringin, Kecamatan Salawu, Kabupaten Tasikmalaya, Jumat (22/03/2019)
Dalam kegiatan tersebut diisi dengan penanaman bibit ikan, dan pohon serta kampanye jaga sungai.
Ketua Gumati Foundation, Dodi Kurniawan mengatakan, bahwa Hari Air Sedunia sudah diperingati sejak tahun 1992 dengan tema yang berbeda setiap tahunnya.

“Sejauh yang kita tahu dari sejarah, Hari Air Sedunia diperingati sejak tahun 1992 dan setiap tahun biasanya ada tema tersendiri. Untuk tahun 2019 Desa Tenjowaringin temanya adalah Peduli Sungai Cikuray,” ujarnya.

Dodi menjelaskan, acara tersebut digelar bertujuan juga untuk menggugah kesadaran warga betapa pentingnya sungai.

“Betapa pentingnya peran sungai dan betapa pentingnya sungai yang bersih ini karna akan membawa manfaat yang besar untuk kehidupan kita sehari-hari. Dan yang terpenting sungai yang sehat pasti yang aman dan akan menghindarkan kita dari bencana atau musibah yang ditimbulkan oleh salahnya pengolahan sungai,” jelasnya.

Harapan kedepan, lanjut Dodi, tentu saja warga lebih peduli dan lebih menyayangi sungai, tidak membuang sampah ke sungai, tidak mengambil batu-batuan karna batu-batuan mempunyai fungsi sebagai penahan arus dan sebagai perlindungan ikan-ikan.

 “Yang tidak kalah pentingnya adalah tidak membuang zat-zat beracun ke sungai Sehingga habitat sungai akan terpelihara dengan baik dan itu akan menjadi sumber daya untuk kita,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tasikmalaya, Drs. Bambang Alamsyah MM yang turut hadir dalam kegiatan tersebut, mengaku senang atas inisiatif warga dalam memperingati Hari Air Sedunia.

“Mudah-mudahan menjadi cerminan bahwa lingkungan ini perlu dilestarikan oleh kita semua. Lingkungan ini menjadi bagian hidup bagi kita dan merupakan suatu ekosistem dalam kehidupan kita,” katanya.

Bambang mengingatkan, agar warga masyarakat jangan sampai abai terhadap lingkungannya.
“Sebagaimana kita ketahui bencana alam berasal dari alam dan disebabkan karena kesalahan kita dalam mengelola lingkungan yang tidak benar,” ucapnya.

Bambang berharap, bukan hanya Gumati, tetapi banyak komunitas-komunitas lain yang cinta dan peduli terhadap lingkungan.

“Semoga komunitas-komunitas ini nantinya bisa menyebarkan virus cinta terhadap lingkungan kepada segenap lapisan masyarakat,” tandasnya.