Di Era Milenial Emansipasi Makin Fokus Pada Pemberdayaan Ekonomi Wanita

/ Rabu, 01 Mei 2019 / 02.02
Repoter : M. Taufiq.Sapta

Dari kiri: Ka Didperindag Prov,Jateng. M.Arif Sambodo.SE.M.Si,Kepala DP3AKB Jateng,
Drs.Sri Winarna,M.Si, KaDinas Koperasi dan UMKM Jateng, Dra. Ema Rahmawati.M.Hum,
Anggota Komisi B DPRD Jateng, Dr.Messy Widiastuti. Foto : M. Taufiq.Sapta.

Semarang( Police Watch.News) -
Sosok RA Kartini senantiasa menjadi topik pembicaraan seputar emansipasi wanita , usaha Kartini untuk memperjuangkan hak wanita mudah mendapatkan pendidikan setinggi tingginya dan diberikan kesempatan yang sama untuk menerapkan ilmu yang dimiliki agar tidak direndahkan derajatnya, menjadikan Kartini dikenal sebagai tokoh penggerak emansipasi wanita.

Emansipasi sendiri istilah yang sering digunakan untuk menjelaskan sejumlah usaha untuk mendapatkan hakpolitik maupun persamaan derajat. Di era milenial sekarng ini emansipasi makin focus pada pemberdayaan ekonomi wanita, karenanya emansipasi didorong agar wanita mampu menopang kehidupan diri sendiri dan kekurangannya tanpa meninggalkan kodrat sebagai sosok wanita ,istri maupun ibu rumah tangga.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak sejak tahun 201 telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan ekonomi perempuan melalui pengembangan pelaku usaha Industri Rumahan (IR) . Industri Rumahan adalah industri skala mikro menghasilkan produk barang jadi dan memberikan nilai tambah dan dikerjakan dirumah secara khusus atau sebagai kerja paro waktu.

Kementerian PPA lalu menerbitkan Peraturan Menteri no 2 tahun 201 tentang pedoman umum pembangunan industri rumahan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui pemberdayaan perempuan.

Anggota Komisi B DPRD Jateng,Dr. Messy Widiastuti mengatakan, perjuangan demi perjuangan lingkungan dari seorang perempuan itu sendiri maupun faktor faktor lain yang mempengaruhi. Dari adat istiadat bisa menghambat perkembangan sehingga perlu disentuh dengan program program tersendiri demikian juga faktor faktor eksternal seperti pendidikan yang kurang, kebudayaan, adat istiadat perlu disentuh sehingga perempuan perlu mendapatkan kesempatan yang sama dengan kaum lelaki, karena dari dulu perempuan selalu dibawah laki laki mulai dari konco wingking, pekerjaan,lingkungan domestic tidak mendapatkan gaji padahal itu pekerjaan yang mulia. Itu semua harus kita gali dan kita ungkap sehingga bisa membuat suatu terobosan yang bisa memperbaiki kesempatan perempuan untuk memjadi seseorang dalam membangun bangsa dan Negara ini.

Menurutnya, kesempatan memang sudah ada walaupu belum setara misalnya, perempuan yang ada di parlemen 30 persen tetapi juga bersyukur karenakaum pria juga memberikan kesempatan kepada kita,ttapi kemampuan kita sendiri sebagai kaum perempuan belum bisa menyamakan diri dengan laki laki karena segala permasalahan yang dihadapi perempuan yang begitu luas itu perlu kita perbaiki baru bisa setara.

Lingkungan sosial perlu kita didik juga supaya bisa menerima keadaan sama dengan laki laki dari awal sebagai anggota dewan , prerempuannya hanya 11 anggota dewan ,sekarang yang ada meningkat ada 27 anggota dewan dan nanti saya yakin kedepannya bisa lebih dari 30.

Sekarang ini penduduk akimlaki dan perempuan jumlahnyahampir sama bahkan disatu tempat ada laki laki jumlahnya lebih banyak karena apa? Karena perempuan melahirkan, kematian saat melahirkan itu terbukti perempuan jumlahnya hampir sama dengan laki laki itu membuktikan bahwa perempuan harus diberikan kesempatan yang sama sehingga nantiny bisa berkembang bersama,” pungkasnya, sat menjadi nara sumber pada dialog bersama parlemen jawa tengah dengan tema Memaknai Emansipasi Wanita Di Era Milenial yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di Lobby Gets Hotel Jalan MT. Hryono no 312 – 31 Kota Semarang, Senin, 29/4/2109.

Sementara itu Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan,Perlindungan Anak,Pengendakian  Penduduk dan Keluarga Berencana ( DP3AKB ) Prov. Jateng,Drs.Sri Winarna.M.Si menjelaskan, Jawa Tengah merupakan salah satu lokasi uji coba terkait denga Industri Rumahan.karena dianggap terbaik di Indonesia sehingga sampai dikunjungi dari 10 delegasi Iran untuk melihat industry rumahan ini bahkan sampai 4 hari disini, dan kita juga mengembangkan terkait dengan Tingkatan Produktif Ekonomi Perempuan (TPEP). Inilah yang nantinya akan sinkron terkait peningkatan ekonomi utnuk perempuan,” ungkapnya.

Menurutnya sesuai dengan slogan jateng gayeng inceng wong meteng merupakan hal yang menarik dan ini juga upaya penurunan angka kematian yang cukup drastis. Mengenai kemiskinan salah satu yang kita dorong bagaimana pemberdayaan perempuan menjadi lebih dominan. Pesan kami untuk perempuan jateng maju terus untuk berdikari,maju untuk ekonomi agar nantinya bisa bagaimana kita bertanggung jawab, pungkasnya.

Sementara Kepala Dinas Koperasi dan UKM Prov jateng, Dra. Ema Rachmawati,M.Hum menuturkan dilihat dari Usaha KecilMenengah (UKM) untuk taraf ini paling banyak perempuan.

Jadi kalau kita mengadakan pelatihan di dinas kami, ada 3 jenis pelatihan yaitu pelatihan vokasi,
pelatihan managerial dan pelatihan kompetensi.

Menurutnya untuk pelatihan usaha mikro kecil hampir 80 persen pesertanya perempuan, kitaambil satu  contoh pelatihan vokasi batik, itu ada tingkatannya yaitu pelatihan batik dasar, lanjutan dan mahir dan nanti setelah mereka berhasil, kita undang lagi untuk mengikuti pelatihan managerial.

Karena biasanya perempuan kalau baru membangun usaha tidak di melekkan pada kehidupan yang lain maka dia akan berhenti pada pelatihan ketrampilan saja.Yang lebih penting lagi bagaimana kita membangun ekonomi rumah tangga,” ungkapnya

Pada kesempatan yang sama Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Prov Jateng.M. Arif Sambodo,SE.M.Si mengatakan, saat ini bagaimana kita memasuki era milenial punya kepercayan, punya kemampuan,punya mental. Kalau kita lihat secara kasat mata di dunia industry ini ternyata peremuan ini yang bergerak di industry kecil,menengah umumnya mereka bermental tangguh, ulet didalam mengupshort factor factor ekonomi, ungkapnya.

Menurutnya di era milenial juga ditandai ekspektasi yang tinggi karena ada semacam keinginan yang muncul, ada kesempatan yang bisa diraih tidak seperti 30 tahun yang lalu dan peluang bagaimana menambah ekonomi rumah tangga ini banyak ditangkap oleh perempuan dan ekspektasi yang tinggi untuk meningkatkan pendapatan,” pungkasnya.
Komentar Anda

Berita Terkini