Di Tahun 2018, 6 Persen Anak Di Kota Semarang Belum Mengenyam Pendidikan Dasar

/ Senin, 20 Mei 2019 / 22.19

Reporter : M. Taufiq.Sapta

Dari kiri : Pengamat pendidikan, JC Tukiman Taruno Sayoga, Sekretaris Pendidikan Kota
Semarang, Hari Waluyo, WakilKetua DPRD Kota Semarang Wiwin Subiyono.Foto: M.Taufiq


Semarang ( Police Watch.News)- Pendidikan dasar adalah hak semua warna Negara Indonesia tak terkecuali abagi anak yang kekurangan ekonomi sekalipun. Hal ini sejalan dengan target Milenium Development Gold ( MDG) untuk menjamin anak dimanapun laki laki maupaun perempuan harus bisa menyelesaikan sekolah dasar, tekad ini juga selaras dengan target program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yakni 6 tahun di SD, anak usian 9 - 12 tahun dan 3 tahun di SLTP untuk anak usian 13 - 15 tahun .

Penduduk dengan tingkat pendidikan yang memadai diharapkan mampu mendukung dengan ekonomi sosial yang cepat. Program pendidikan 9 tahun merupakan salah satu upaya pemerintah untuk membekali anak didik dengan ketrampilan dan pengetahuan dasar guna mealanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi juga sebagai bekal menjalani, kehidupan dalam masyarakat untuk membuat pilihan pilihan dan memanfaatkan produk produkberteknologi tinggi untuk menjadikan interaksi dan kompetisi antar warga masyarakat, kelompok dan antar bangsa .namun tujuan MDG bukan sekedar semua anak bisa sekolah tetapi memberikan mereka pendidikan dasar yang utuh, kenyataannya banyak anak tidak bisa sekolah, lancar di sekolah atau tidak naik sekolah atau bahkan terpaksa berhenti sekolah.

Problema ini harus menjadi perhatian serius pemangku kebijakan di bidang pendidikan agar anak anak di Indonesia khususnya di kota semarang mampu mengenyam pendidikan dasar secara utuh berkemampuan dan berdaya saing yang tinggi dalam menghadapi tantangan zaman.

Wakil ketua DPRD Kota Semarang, Wiwin Subiyono, mengatakan pendidikan dasar sangat penting sebagai langkah awal menuju ke jenjang berikutnya. Untuk masyarakat kota semarang khususnya, pemerintah sudah memberikan anggaran. Di tahun 2017 untuk pendidikan dasar, anak yang tidak bisa bersekolah di pendidikan dasar ini sekitar 19 persen ini berdasarkan data BPS artinya mereka mungkin hanya tamatan SD , SMP tidak lulus atau tidak sekolah sama sekali.

Kami berharapdi tahun 2019 ini tidak sebesar itu. Tahun 2018 dah turun menjadi 6
persen, “Ucapnya.

Kami berharap pula pendidikan minimal sampai dengan lanjutan atas atau setingkat SMA/SMK . misalkan masyarakat semarang yang pendidikannya hanya sampai SMA memiliki daya saing untuk bisa bekerja atau mendapatkan pendidikan lebih tinggi lagi pungkasnya ,hal ini diungkapkan saat menjadi nara sumber Dialog bersama Parlemen Kota Semarang, dengan tema ‘ Pendidikan Dasar Untuk Semua” yang disiarkan langsung MNC Trijaya FM di ruang Petra Hotel Noormans Jalan Teuku Umar no 27 Jatingaleh, Seamarang , Senin, 20/ 5 /2019.

Sementara Sekretaris Dinas Pendidikan kota Semarang, Hari Waluyo mengatakan, di kota semarang, pemerintah melalui Wali kota Hendrar Prihadi,SE.MM mencanangkan jangan sampai ada anak usia sekolah di kota semarang tidak sekolah. Dilihat dari sisi data rata rata lama sekolah 10,5 tahun terdiri SD tahun, SMP 3 tahun di tambahkan pendidikan menengah atas 3 tahun.

Hari menambahkan untu warga kota semarang, pak waki menyediakan sekolah gratis mulai dari tingkat SD.SMP khususnya pada sekolah negeri, berikutnya juga menyediakan bea siswa bagi siswa miskin baik negeri ataupun swasta.warga miskin masuk BDT ( Basic Data Terpadu ) dijamin mendapatkan bea siswa bahkan gratis. Ungkapnya.

“ Siswa miskin saja dapat bea siswa, apalagi siswa miskin berprestasi bahkan sampai sekolah menengah ,ranahnya dikmen juga diberi bahlkan juga yang sudah kuliah asal miskin di beri bea siswa,” pungkasnya.

Pada kesempatan yang sama ,Pengamat Pendidikan, JC. Tukiman Taruno Prayoga yang lebih akrab dengan panggilan Taruno, mengungkapkan ,Milenium Development Gold (MDG) berakhir tahun 2015, karena waktu itu munculnyantahun 2000, selama 15 tahun capaiannya dinamakan MDG. Tetapi setelah memasuki tahun 201 seterusnya berkembang menjadi Systemable Development Gold (SDG) artinya segala yang kita rancang untuk memasuki abad millennium itu harus terus berlanjut. Maka dari tahun 2016 sampai pada 30 tahun kedepan di kembangkan Systemable Development Gold ( SDG), malah capainannya itu harus di perluas lagi termasuk di pendidikan yang disebut Education Fould Out (EFO) diperluas indicator indikatornya capaiannya.”ungkapnya.

Menurut Taruno, pendidikan harus dilaksanakan secara berkelanjutan , apa artinya kalau pendidikan tidak bisa berlanjut untuk keberlangsungan bangsa atau dunia inilah kandungan yang akan di sampaikan oleh SDG , Terkait problem di kota semarang ada 2 hal yang pertama tentang ATS ( Anak Tidak Sekolah ) yang kedua Kebijakan.”tuturnya.

“ Pada saat saya masih berkecimpung di Unicef dan Unesco kita adakan penelitian di 3 akabupaten seperti Brebes,Klaten dan Pemalang kita bandingkan ternyata jumlah anak yang tidak sekolah masih sangat tinggi. Anak tidak sekolah sebenarnya usianya sudah sekolah tetapi tidak sekolah bahkan mencapa angka 20 persen rata rata, akan tetapi kalau di tahun 2019 menjadi persen tentu harus di apresiasi. “ucapnya.

ATS sumbernya ada 2 yaitu bagaimana sekolah itu sendiri dan bagaimana rumah tangga masyarakat itu sendiri rumusannya adalah membahagiakan ,menyenangkan bagi semua pihak.

Kalau sekolah tidak membahagiakan jangan harap anak senang disekolah, kalau rumah tanggamasyarakat tidak membahagiakan anak, jangan harap anak betah di dalam rumah tangga
masyarakat itu ,” pungkasnya.
Komentar Anda

Berita Terkini